ad-12 Labs

Because I Can’t Become Somebody Else

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (4)

Weekend kali ini Penulis dan 4 rekan memutuskan untuk traveling ke Munchen (Munich), salah satu kota terbesar di Jerman. Kenapa harus berlima? karena ada fasilitas Sonnen-Wochendende Ticket, yaitu tiket kereta api khusus hari Sabtu-Minggu (berlaku selama 27 jam dalam dua hari) seharga €37 untuk naik kereta api di seluruh Jerman, maksimum untuk 5 orang. Jadi setiap orang hanya mengeluarkan €7,40 untuk naik kereta api apapun di manapun di Jerman selama 27 jam pada hari Sabtu-Minggu! Kendalanya tentu soal waktu, agar selama 27 jam itu bisa mencakup pulang-pergi dan jalan-jalan, karena tiket itu tidak berlaku untuk kereta ICE (Inter City Express) yang cepat dan langsung menghibingkan antarkota besar, sehingga pemakai tiket ini akan mengalami beberapa kali ganti kereta untuk mencapai tujuan, bergantung pada jadwal waktu keberangkatan dan kepulangannya.

Untuk weekend ini kami memilih Munchen dengan pertimbangan:

  1. Munchen adalah kota besar, terkenal terutama sebagai basis klub Bayern Munchen.
  2. Munchen tidak terlalu jauh dari Karlsruhe dibandingkan Berlin, misalnya, sehingga bisa ditempuh dalam rentang waktu 27 jam.

Setelah tujuan diseleksi, langkah berikutnya adalah menyusun jadwal, agar bisa diketahui di mana, kapan, dan kereta apa yang harus digunakan agar sampai di Munchen, pada akhirnya akan diketahui waktu total perjalanan yang diperlukan, yang berpengaruh pada waktu jalan-jalan yang akan dialokasikan. Untuk itu, kami pergi ke Karlsruhe Hauptbanhof (Stasiun KA Utama), dan menggunakan mesin otomat tiket yang tersedia. Mesin ini bisa mengecek jadwal perjalanan dan sekaligus memesan tiket untuk semua jenis perjalanan dengan kereta api. Kita tinggal memasukkan stasiun keberangkatan, tujuan, tanggal dan jam keberangkatan/kedatangan, jenis kereta api yang digunakan (ICE, RE, S), danmesin akan memberikan beberapa alternatif jadwal. Kita bisa memilih salah satu dan membuat printoutnya untuk pegangan saat melakukan perjalanan sebenarnya.

Time Table

Time Table

Karena kami merencanakan untuk berangkat hari Sabtu jam 04.00 dan pulang sorenya pukul 17.00, kami mendapatkan jadwal keberangkatan yang dimulai pukul 04.25 yang sampai di Munchen pukul 10.24 selama 5:59 jam dan berganti kereta 5 kali. Jadwal pulang kami diawali pukul 17.06 dan sampai di Karlsruhe pukul 23.38 selama 6:32 jam dengan berganti kereta dua kali. Sebagai antisipasi, kami juga mencetak jadwal pulang yang dimulai pukul 16.32 sampai pukul 21:53 selama 5:21 jam dengan berganti kereta 3 kali.

Awal petualangan diawali malam harinya saat kami semua sepakat untuk menginap di rumah salah satu rekan untuk menyiapkan segalanya, termasuk perbekalan makanan untuk makan siang. Kami nyaris tidak tidur semalaman. Sebelum berangkat pukul 3.00 kami menyempatkan untuk ’sarapan’ terlebih dahulu. Diawali naik tram S5 ke Stasiun, kami menyempatkan slat Subuh di peron dengan diawasi sekelompok anak muda yang keheranan melihat kami menggelar sajadah dan salat berjamaah. Pukul 04.25 kereta pertama ke Durlach tiba.

Salat Subuh di Karlsruhe Hbf

Salat Subuh di Karlsruhe Hbf

Di Durlach kami menunggu selama 30 menit sebelum naik kereta (tram) ke Bietigheim-Bissingen. Sebelas menit tersedia untuk pindah ke kereta ke Stuttgart. Dari Stuttgart, perjalanan dilanjutkan ke Ulm, Augsburg, sebelum akhirnya tiba di Munchen pukul 10.24. Sempat kebingungan di Munchen Hbf yang sangat besar dan ramai, untungnya kami sempat browsing tentang jalur transportasi ke tujuan wisata (Allianz Arena dan Olympiapark). Kami kemudian naik kereta S27(?) (underground) ke Marianplatz dan pindah ke kereta U6 menuju Allianz Arena. Dari halte ke stadion jaraknya lumayan jauh (sekitar 10 menitan jalan kaki), namun antusiasme melihat bentuk Allianz Arena yang bak donat dari jarak jauh membuatnya tidak terasa melelahkan. Sayangnya, untuk bisa masuk ke tribun penonton dan menatap lapangan hijau dari dekat harus megikuti stadium tour seharga €10, sehinggakami pun memutuskan untuk melakukan wisata belanja di toko-toko cinderamata di kawasan stadion. Ada beberapa toko, di antaranya milik stadion sendiri, Audi, T-Mobile, klub TSV 1860 Munchen, dan tentunya yang paling diminati adalah milik FC Bayern Munchen. Sedikit rasa kaget muncul menyaksikan barang-barang dalam toko, lebih kaget lagi menyaksikan harganya yang puluhan hingga ratusan euro. Akhirnya kami cukup memuaskan diri dengan membeli beberapa barang sale yang harganya tak lebih dari €10/item. Sebelum pergi, kami menyempatkan diri makan siang lesehan di salah satu sudut stadion. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00.

Penulis di Depan Allianz Arena

Penulis di Depan Allianz Arena

Karena waktu yang mepet, kami bergegas menuju halte dan menuju Olympiapark naik kereta U3. Sampai di sana kami memusatkan kunjungan di BMW Welt, sebuah showroom raksasa yang memamerkan teknologi terbaru BMW, di antaranya sebuah mobil hybrid concept dan satu ruang khusus untuk BMW Z4 yang merupakan penerus generasi Z3 yang pernah digunakan dalam film James Bond. Karena waktu yang kurang memungkinkan, kami terpaksa mengakhiri kunjungan di Olympiapark tanpa mengunjungi obyek lain seperti BMW Museum dan Olympia stadium.

Museum BMW

Museum BMW

Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Marianplatz, salah satu pusat keramaian di Munchen. Kami kembali naik kereta U3 kembali ke pusat kota, naik tangga ke atas, dan…voila, bertemu dengan keramaian di Marianplatz. ternyata, tengah berlangsung konser musik dalam rangka Christopher Street Day, yang merupakan festival untuk melawan diskriminasi terhadap kaum gay. Suasana yang riuh rendah dan banyaknya orang yang berlalu lalang membuat nyali kami cukup ciut dan bergegas kembali ke bawah tanah untuk kembali ke Munchen Hbf.

Christopher Street Day di Munchen

Christopher Street Day di Munchen

Dari rencana pulang pukul 17.00, keramaian di Marianplatz membuat kami malah mempercepat jadwal kepulangan menjadi pukul 16.32. Kali ini perjalanan lebih singkat dan lancar, mulai dari Munchen ke Aurgburg, dilanjutkan ke Ulm dan Stuttgart, dengan jeda masing-masing 15 dan 13 menit. Di Stuttgart, sebelum naik kereta api ke Karlsruhe ada jeda waktu 1 jam. Kami menghabiskannya untuk berjalan-jalan di sekitar Stasiun Kereta dan makan malam. Akhirnya, pukul 21.53 kami tiba di Karlsruhe Hbf, dan berpisah untuk menuju kediaman masing-masing dengan mata berat dan kaki pegal, namun hati yang puas.

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (3)

Seminggu sudah Penulis hidup di Jerman (Karlsruhe), banyak sudah suka duka pengalaman yang dialami Penulis dan rekan-rekan. Banyak adaptasi yang harus dilakukan, mulai soal cuaca, bahasa, cara hidup, dan lingkungan sekitar yang sangat berbeda dengan Indonesia. Banyak dari hal itu bisa dipelajari terlebih dahulu, namun tentu saja kenyataan yang dihadapi akan berbeda dari apa yang dipelajari sebelumnya, kadang sangat berbeda.

Wohnung

Wohnung

Pertama, soal pemukiman. Kami di Karlsruhe tinggal di semacam rumah susun, yang tiap bangunannya terbagi atas beberapa bagian (jadi, rumah nomor 1 akan terbagi menjadi nomor 1A, 1B, dst). Tiap bagian terbagi lagi atas beberapa lantai (empat di tempat Penulis), dan tiap lantai terbagi menjadi dua bagian (suite). Tiap suite dapat diibaratkan sebuah rumah kontrakan, yang terdiri atas beberapa kamar tidur, kamar mandi, dan dapur (merangkap kamar cuci). Jika kita menyewa satu kamar, maka kita akan berbagi kamar mandi dan dapur dengan para penghuni lainnya. Fasilitas hunian biasanya lengkap, semua perabotan disediakan: tempat tidur, lemari, meja tulis, rak, kemudian di dapur pun sudah lengkap dengan kompor gas, oven, microwave, lemari es, alat makan, dan biasanya juga mesin cuci. Kamar tidur dilengkapi pemanas dan dibangun dengan konstruksi yang memungkinkan isolasi panas (wallpaper, pelapis dinding dan lantai, lantai kayu). Sistem kunci hanya digunakan untuk membuka pintu dari luar (pintu akan mengunci otomatis saat menutup), sedangkan siapapun bisa keluar rumah tanpa menggunakan kunci. Pada beberapa flat, penghuni hanya membutuhkan satu kunci untuk membuka pintu flat, suite, dan kamar tidurnya. Saat bertamu, kita mengebel nomor suite yang tepat, dan penghuni tinggal menekan tombol kunci pada interkom untuk membukakan pintu. Kebutuhan bersama akan diatur oleh sesama penghuni, termasuk tanggung jawab kebersihan. Rekening listrik (unlimited) dan internet (high speed!) biasanya termasuk dalam biaya sewa.

Kedua, masalah cuaca. Kebetulan saat ini musim panas, sehingga tidak memerlukan banyak penyesuaian karena suhu rata-rata mirip dengan kota pegunungan di Indonesia. Hujan yang turun pun tidak sederas di Indonesia, yang kadang-kadang menyebabkan banjir. Mungkin perbedaan waktu yang lebih menantang. Karlsruhe (dan Jerman umumnya) berselisih waktu 6 jam dengan Indonesia. Untuk musim panas diberlakukan Daylight Saving Time dengan memajukan waktu satu jam, sehingga selisihnya tinggal 5 jam. Itu saja cukup menimbulkan masalah jetlag, belum lagi kenyataan bahwa di musim panas, matahari baru terbenam pukul 10 malam!

Cuaca di Karlsruhe

Cuaca di Karlsruhe

Konsekuensinya, waktu salat pun menjadi agak aneh bagi yang terbiasa di Indonesia. Waktu duhur adalah jam 01.30, Asar 05.30, Magrib 09.30, Isya 11.45, dan Subuh 03.00. Belum lagi kenyataan bahwa susah menemukan tempat salat di tempat-tempat umum. Sampai saat ini Penulis belum berhasil menemukan masjid. Salat Jumat pun dilaksanakan di kampus Universitaet Karlsruhe. Bisa dibayangkan saat bulan Ramadan tiba nanti.

Ketiga, soal makanan. Sebenarnya tidak terlalu susah menemukan makanan dengan selera Indonesia. Dengan catatan, pertama Anda punya dana tak terbatas, tersedia banyak rumah makan Asia atau Turki, juga Fast Food. Kedua, bagi yang suka memasak sendiri, tersedia toko yang menjual bahan-bahan masakan khas Asia: beras, bumbu, mi instan, tempe, sambal botol, cabe kering semuanya tersedia. Bagi Anda yang mempunyai dana terbatas disarankan mengombinasikan menu nasi dengan menu lain yang lebih mudah didapat, seperti roti, sereal, pasta, atau kentang. Selain itu bahan makanan yang ‘umum’ seperti telur, susu, sayur, dan buah juga cukup terjangkau. Yang agak susah mungkin daging dan menu yang mengandung daging, karena didominasi oleh menu daging babi, terutama produk kebanggaan Jerman: sosis (wurz). Solusinya, Anda bisa membeli makanan berdaging di kedai Turki yang menjual kebap, ayam, pizza, atau hot dog yang halal.

Makan Ayam di Kedai Turki

Makan Ayam di Kedai Turki

Keempat, masalah bahasa. Ada baiknya mempelajari bahasa Jerman sebelum pergi ke Jerman. Kalaupun dianggap sulit, gunakan jalan pintas dengan menggunakan buku-buku yang berisi ungkapan, pertanyaan, dan jawaban dalam bahasa Jerman, atau minimal kuasai beberapa kata penting dalam bahasa Jerman seperti selamat pagi, terima kasih, kata-kata tanya, angka, dan ekspresi seperti menanyakan kemampuan bahasa Inggris.

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (2)

Weekend ini dihabiskan dengan berkunjung ke Flohmarkt (semacam pasar kaget+garage sale) di Mercado. Flohmarkt ini dilaksanakan setiap hari Sabtu pukul 07.00 - 15.00. Di sini bisa ditemui barang-barang bekas dan barang-barang baru dengan harga miring mulai dari souvenir, mainan, buku, CD/PH, alat pertukangan, elektronik, pakaian, sampai bahan makanan dan sepeda. Sementara teman-teman Penulis asyik memborong baju, tas, dan mainan anak, Penulis cukup ‘mengutip’ beberapa mainan bekas seharga € 0,50 sampai € 1.

Flohmarkt

Flohmarkt

Sabtu sore dihabiskan di Museum, yang bernama lengkap Staatliches Museum fur Naturkunde Karlsruhe. Di dalamnya dipamerkan berbagai macam binatang yag dikeringkan dalam habitatnya. Untuk ikan, dipamerkan hidup-hidup dalam akuarium, mirip seaworld, namun museum ini tidak memamerkan ikan-ikan raksasa macam hiu atau paus. Di samping itu, juga dipamerkan bermacam-macam mineral, fosil hewan purba, dan pameran khusus Magadaskar. Tiket masuk museum sebesar € 3/orang. Sayangnya, saking serunya menggeber kamera, baterai habis di tengah jalan, dan setengah isi museum belum sempat diabadikan.

Museum

Museum

Hari Minggu, yang direncanakan ke Heidelberg/Matzingen terpaksa batal gara-gara dua rekan mendadak sakit. Akhirnya diputuskan untuk berkeliling Karlsruhe dan sekitarnya. Pertama, kami mengunjungi daerah Durlacher, tepatnya di Tumberg, yaitu bukit yang bisa dinaiki dengan kereta, dengan tiket seharga € 1,50 sekali jalan atau € 2,30 bolak-balik. Tiba di puncak, dilanjutkan dengan mendaki sebuah tower kuno yang dari atasnya kita bisa melihat panorama kota Karlsruhe.

Karlsruhe from Above

Karlsruhe from Above

Selanjutnya, kami mengunjungi Baden Baden, sebuah kota kecil di bagian utara selatan Karslruhe. Sayangnya, karena kurang persiapan, kami sempat menghabiskan banyak waktu hanya untuk menuju kota ini. Dimulai dengan pemilihan jenis kendaraan, yaitu bus dilanjutkan dengan tram yang salah jurusan, praktis kami hanya menghabiskan waktu sejam di Baden-Baden. Akibatnya, banyak obyek yang tidak sempat dikunjungi. Ditambah lagi sandal salah seorang rekan putus di tengah jalan, membuat yang bersangkutan malas melanjutkan petualangan. Nama Baden dalam bahasa Jerman berarti mandi, dan Baden-Baden terkenal dengan spa di samping kasino, hotel mewah, dan pacuan kudanya. Nama Baden-Baden diberikan pada tahun 1931 yang berarti: Baden in Baden (Mandi di kota Baden).

Trinkhalle

Trinkhalle

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (1)

Yep, we’re in Germany now… setelah melalui berbagai trik dan intrik seputar keberangkatan ke Jerman, akhirnya mulai awal bulan Juli ini Penulis berhasil menapakkan kaki di tanah Bavaria, tepatnya di kota Karlsruhe. Penantian panjang selama 8 bulan berakhir saat invitation letter tiba pada pertengahan Juni lalu. Gerak cepat pun dilakukan untuk mengurus visa dan tiket, sampai keberangkatan dini hari tanggal 1 Juli 2009 ke Frankfurt via Dubai.

Dubai Airport

Dubai Airport

Penerbangan selama kurang lebih 18 jam (dengan konversi zona waktu), termasuk transit 3 jam di Dubai, ternyata tidak terasa terlalu melelahkan. Mungkin karena Penulis terbang bersama dua rekan lain, kondisi mental yang sedang naik, dan fasilitas selama penerbangan terbilang memuaskan. Sampai di Frankfurt jam 13.15 waktu setempat, masih harus ditambah 1 jam perjalanan berkereta api ke Karlsruhe. Sampai di sana, sempat terbengong-bengong di Karlsruhe Hauptbanhof (Stasiun KA Karlsruhe) sebelum rekan-rekan penjemput datang. Langsung saja kami bertiga membeli tiket trem yang kebetulan sedang promosi musim panas, 15 € untuk 10 hari penuh, 24 jam, gratis naik trem ke seluruh Karlsruhe!

ICE ke Karlsruhe

ICE ke Karlsruhe

Kesan pertama keliling Karlsruhe, tentu saja banzak orang Jerman (ya iyalah…), kota yang relatif bersih, trem yang nyaman (mirip busway, tapi dijamin bebas macet), mobil-mobil yang keren di sepanjang jalan, dan… udara musim panas Jerman yang nggak jauh di beda dengan di Indonesia (suhu sekitar 25-28 derajat, setara di Bandung). Matahari baru terbenam sekitar pukul 10.00 waktu setempat dan sudah terbit lagi sekitar pukul 04.00 (kebayang kalau puasa nanti).

Hujan di Karlsruhe

Hujan di Karlsruhe

Hari Jumat kemarin, ikut salat Jumat di Universitat Karlsruhe. Acara yang biasanya diselenggarakan di dalam ruangan dipindah ke lapangan luar. Pesertanya cukup beragam, dari berbagai negara dan bangsa, termasuk Jerman sendiri. Khotbahnya pun dalam bahasa Jerman, cukup membuat bengong (teringat saat mendengarkan khotbah berbahasa Sunda di Bandung dulu). Selesai Jumatan, hujan pun turun, lumayan deras dan lama, dari pukul 02.30 sampai pukul 06.30. Sore harinya, gara-gara terlalu pede, Penulis dan tiga rekan mengubah acara makan sore menjadi pesta Pizza gara-gara memesan 4 porsi pizza yang ternyata per porsinya itu seukuran medium di Pizza Hut!. Sampai akhirnya dengan sedikit perjuangan, empat porsi itu bersisa satu setengah porsi untuk dibawa pulang.

Pizza Party!

Pizza Party!

No One But You (Only the Good Die Young)

written by Brian May
performed by Queen
taken from album Queen Rocks (1997)

A hand above the water
An angel reaching for the sky
Is it raining in Heaven -
Do you want us to cry ?

And everywhere the broken-hearted
On every lonely avenue
No-one could reach them
No-one but you

One by one
Only the Good die young
They’re only flying to close to the sun
And life goes on -
Without you…

Another tricky situation
I get to drowning in the Blues
And I find myself thinking
Well - what would you do ?

Yes! - it was such an operation
Forever paying every due
Hell, you made a sensation
(sensation)
You found a way through - and
(You found a way through)

One by one
Only the Good die young
They’re only flying to close to the sun
We’ll remember -
Forever…

And now the party must be over
I guess we’ll never understand
The sense of your leaving
Was it the way it was planned ?

And so we grace another table
And raise our glasses one more time
There’s a face at the window
And I ain’t never, never saying goodbye…

One by one
Only the Good die young
They’re only flying to close to the sun
Crying for nothing
Crying for no-one
No-one but you

(for those who are gone before us, especially for Didang and Doni, we’ll miss you a lot…)

Copy and Paste

Saat pertama kali mengenal internet, keinginan Penulis adalah membuat konten dan punya website sendiri. Setelah terwujud (tahun 1999), tentunya agar situs tetap update, konten terus bertambah, dan tidak hilang dari peredaran. Hampir tak terpikirkan soal melindungi konten dengan hak cipta atau lisensi. Pasang surut pemeliharaan situs ini masih berlanjut sampai hari ini, di era blog dan web 2.0, dengan jumlah situs yang harus di-maintenance yang terus bertambah, sehingga beberapa situs jadi terlantar dan berstatus ‘frozen’.

Salah satu situs yang berstatus frozen adalah situs personal di GeoCities yang tidak diperbarui sejak 2005, dan seluruh kontennya telah dipindahkan ke situs baru. Sejak itu, situs lama tidak lagi dipedulikan. Maka, bisa dibayangkan kagetnya Penulis kala menemukan situs lama Penulis telah dikopi seluruh isinya (hanya diganti judul, footer, dan foto di halaman depan) pada alamat ini (halaman depan hanya bertahan 10 detik sebelum masuk ke halaman lain). Source codenya, termasuk meta refresh 10 detiknya masih bertahan, yang berarti versi terakhir situs ini yang diambil. Nama pemilik situsnya pun diganti menjadi Indah Dewi Permatasari (!).

Jika dilacak ke alamat top domainnya, maka situs ini tak lebih situs yang berusaha menarik pengunjung dengan tawaran-tawaran serbagratis. Situs hasil copy-paste itu dimasukkan dalam link “Dapatkan Tips dan Trik Komputer Gratis”.

Memang ini bukan pertama kalinya Penulis menghadapi hal semacam ini. Artikel Penulis tentang Daftar Distro Linux Indonesia minimal dua kali (ketahuan) dikutip di blog lain tanpa menyebut sumber aslinya. Dengan sopan Penulis mengingatkan hal ini di bagian komentar. Toh, pada dasarnya tidak ada yang melarang pengutipan satu artikel, apalagi di era digital yang serba cepat, asal sumbernya tetap dicantumkan. Kalau satu situs (desain, kode, dan kontennya) yang dikopi, bagaimana menyikapinya? Ada usul?

Situs Hasil Fotokopi Itu

Situs Hasil Fotokopi Itu

AdBlock Plus vs NoScript

Para pengguna browser Firefox tentunya mengenal ekstension AdBlock Plus, yang merupakan addon untuk memblokir tampilan iklan pada situs web yang sedang dikunjungi. Salah satu kegunaan terbesar ekstension ini adalah membuat situs detik.com tampak lebih manusiawi… :). Extension ini bekerja dengan menggunakan daftar hitam (blacklist) yang disebut filterset, yang di dalamnya memuat nama situs, server, dan URI yang berpotensi menampilkan iklan.

Di lain sisi kita juga mengenal extension NoScript, yang mengeblok script, terutama Java, JavaScript, dan Flash pada situs web yang sedang dikunjungi. Dengan kemampuan ini, NoScript juga mampu menahan serangan script berbahaya yang ditanamkan pada situs web tertentu.

Masalah terjadi saat situs NoScript memuat iklan yang oleh pemiliknya diusahakan untuk tetap terlihat walau pengunjungnya menggunakan AdBlock Plus. Sementara AdBlock Plus juga menyediakan whitelist untuk menampilkan iklan pada situs-situs tertentu, pembuat NoScript menginginkan iklannya selalu terlihat dengan memodifikasi instalasi AdBlock Plus pada browser. Untuk beberapa saat, pembuat kedua ekstensi ini saling ‘bertarung’ untuk mempertahankan posisi masing-masing. Sampai akhirnya Mozilla Foundation turut campur dengan mengeluarkan aturan baru yang melarang pembuat ekstensi memodifikasi instalasi ekstensi lain. Versi terbaru NoScript pun dirilis untuk mematuhi aturan baru ini.

GeoCities Akan Ditutup

Satu lagi legenda hidup internet, web hosting gratis populer GeoCities akan ditutup oleh pemiliknya, Yahoo!, tahun ini. Halaman utama GeoCities menyatakan bahwa layanan ini tidak menerima lagi pendaftaran baru. Yahoo! juga telah menutup layanan seperti Photos dan Briefcase beberapa waktu yang lalu.

Layanan yang didirikan oleh David Bohnett dan John Rezner tahun 1994 dengan nama Beverly Hills Internet ini sempat menjadi situs terpopuler kelima pada tahun 1997 sebelum dibeli Yahoo! dengan harga US$ 3,57 milyar pada tahun 1999. Yahoo! kemudian memperkenalkan layanan berbayar dan membatasi transfer data untuk layanan gratisnya.

Memasuki tahun 2000, layanan GeoCities perlahan-lahan tidak populer lagi seiring turunnya harga hosting personal dan semakin populernya blog. Situs pertama Penulis pun dibangun di sini, meskipun sudah tidak diperbarui lagi sejak 2005.

Pendaftaran CD Gratis Ubuntu 9.04 Sudah Dibuka!

Sesuai dengan jadwal, versi terbaru distro Linux Ubuntu 9.04 (Jaunty Jackalope) akan dirilis resmi akhir bulan ini. Sejumlah pembaruan yang diketahui meliputi: update semua aplikasi, terutama OpenOffice.org 3.0, notifikasi update terbaru, dukungan multi-display yang lebih baik, serta dukungan untuk sistem file ext4 dan cloud computing.

Seperti biasa, Canonical akan membagikan CD Ubuntu (desktop/server) dan Kubuntu 9.04 secara gratis. Silakan memesan melalui situs ShipIt (Ubuntu/Kubuntu) dengan menggunakan akun Launchpad masing-masing.

The End of Encarta

Encarta adalah ensiklopedia elektronik populer yang dikembangkan oleh Microsoft. Perkembangan PC multimedia di pertengahan 90-an menjadikan Encarta sebagai ensiklopedia populer, menyaingi reputasi ensiklopedia cetak seperti Britannica dan Americana. Namun, tahun ini Encarta akan berakhir riwayatnya. Microsoft telah mengumumkan penghentian penjualan Encarta mulai 31 Maret 2009, update dan situs Encarta akan berakhir bulan Oktober 2009, kecuali Encarta Japan yang baru berakhir bulan Desember 2009.Microsoft juga akan mengembalikan uang yang telah dibayarkan para pelanggan layanan MSN Encarta Premium.

Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, diperkirakan kehadiran Wikipedia telah membuat Encarta kehilangan sebagian besar penggunanya. Di lain pihak, versi online Encarta juga tidak menarik banyak pengguna. Karena content Encarta tertutup bagi umum, hasil pencarian di Google otomatis akan menempatkan Wikipedia di urutan teratas pencarian. Jika dulu Encarta membuat ensiklopedia cetak berguguran, kini nasib yang sama diterima Encarta dari ensiklopedia online, utamanya Wikipedia.