ad-12 Labs

Because I Can’t Become Somebody Else

Archive for July, 2009


Jerman yang Bukan Jejer Kauman (6)

Rencananya, akhir pekan ini akan dihabiskan di Stuttgart, sekalian menghadiri acara pengajian warga (?) Indonesia se-Jerman. Namun, karena satu alasan, dibatalkan. Backup plan pun segera disusun, dan akhirnya jalan-jalan kali ini dibelokkan ke Metzingen, sebuah kota kecil 30 km di selatan Stuttgart. Apa yang menarik dari kota kecil berpenduduk hanya 22.000 jiwa ini? Well, jika di Indonesia kita mengenal Bandung sebagai kota Factory Outlet (FO), maka di Jerman, Metzingenlah tempatnya. Dipelopori oleh fashion house terkemuka Hugo Boss, yang didirikan dan bermarkas besar di Metzingen, kota ini banyak dikunjungi oleh wisatawan dari seantro Jerman, bahkan Eropa.

Rombongan Besar ke Metzingen

Rombongan Besar ke Metzingen

Kali ini Penulis tidak lagi ditemani rekan-rekan lain karena berbagai alasan. DUa rekan lebih memilih mengunjungi Wina (Vienna) di Austria menggunakan jasa biro perjalanan. Satu rekan yang lain, yang sudah sangat bersemangat pergi ke Metzingen dan dengan sama bersemangatnya mengajak Penulis, dengan sangat spektakulernya ketinggalan kereta yang berangkat pukul 10.05. Konon karena trem satu-satunya yang melewati tempat tinggalnya pagi itu sangat terlambat, tidak seperti biasanya. Penulis, yang tiba di Stasiun pukul 09.30 (janjian jam 09.50) sempat celingak-celinguk sendirian karena dua rekan yang lain belum juga datang (satu rekan lagi juga hampir ketinggalan kereta ke Berlin minggu kemarin). Sambil mengamat-amati orang yang lewat, Penulis mengamati serombongan orang Indonesia, satu keluarga bapak, ibu, dan anak, yang nampaknya juga tengah menunggu seseorang dan sedang berbicara di telepon. Pukul 09.50 rombongan itu tak terlihat lagi. Penulis mulai gelisah sambil mengamati jadwal kereta, lalu mencoba mencetak jadwal tercepat ke Metzingen, yang ternyata harus naik kereta ke Stuttgart dulu pukul 10.05 di jalur 10. Pukul 10.00, Penulis betul-betul gelisah karena dua rekan belum kelihatan batang hidungya. Harapan terakhir, Penulis naik ke jalur 10 dan melihat kereta ke Stuttgart sudah siap berangkat. Tiba-tiba seseorang menghampiri Penulis dan menanyakan apakah Penulis kenal dengan rekan yang belum datang. Ternyata, rombongan tadi juga akan ke Metzingen dan kami bertiga seharusnya ikut dalam rombongan itu (10 orang, memanfaatkan tiket Baden-Wurttemberg seharga €28 untuk 5 orang). Penulis diajak masuk kereta yang sudah siap berangkat, dan anggota rombongan lain masih mencoba menghubungi rekan Penulis yang lain. Akhirnya, pukul 10.05 kami melihat rekan itu berlari-lari mengejar kereta dan akhirnya bisa ikut berangkat. Satu rekan lain, seperti sudah diceritakan di atas, baru tiba di stasiun pukul 10.15 dan naik ke jalur yang salah (8).

Stasiun Kota Metzingen

Stasiun Kota Metzingen

Perjalanan ke Metzingen memakan waktu 2 jam, 1 jam ke Stuttgart, dan 1 jam ke Metzingen. Rombongan kami total ada 13 orang dewasa, ditambah 3 orang keluarga Indonesia lain, ditambah 4 anak-anak. Bak sebuah tour tanpa biro. Baru menginjakkan kaki di stasiun Metzingen yang kecil itu, ternyata bus ke pusat perbelanjaan sudah berangkat, dan kami terpaksa jalan kaki sekitar 10 menit. Sepanjang jalan tidak ada yang istimewa dari Metzingen, hanya pemukiman dan pertokoan kecil. Baru setelah sampai di pusat perbelanjaannya, suasana berubah total. Banyaknya orang berlalu lalang, mobil-mobil mewah, dan bangunan yang menjulang dengan merek-merek fashion terkenal tertempel di atasnya, mulai Versace, Armani, Dolce-Gabbana, Hugo Boss, Escada, Tommy Hilfiger, Polo Ralph Lauren, Levi’s, Oakley, Lacoste, Swatch, sampai Adidas, Nike, Reebok, dan Puma. Ada juga merek sepatu terkenal seperti Bally dan Timberland. Dan tanpa dikomando, rombongan pun menyebar ke segala penjuru, memburu barang-barang yang umumnya sudah ditempel label Sale itu.

Penulis dan rekan pun mulai menjelajah satu persatu toko FO di kompleks itu, mengurutkan satu demi satu merek yang terkenal itu. Tentu saja, untuk soal membeli kami harus banyak berhitung. Meski harga di sana umumnya memang sudah didiskon, kalau memang aslinya sangat mahal tetap saja akan menjadi mahal atau cukup mahal, bukan lumayan murah. Apalagi kalau melihat harga tiga digit, kepala langsung pusing jadinya. Toh, Penulis masih berani membeli beberapa item yang harganya lumayan masuk akal (dan kantong): sebuah jaket, kaos bola berlogo PSSI-nya Tunisia, dan topi berlogo Arsenal. Lumayan banyak untuk seorang yang nggak terlalu tertarik soal fashion. Di tengah-tengah kompleks, di depan toko Escada sejumlah aktivis antibulu binatang memprotes Escada yang menjual mantel bulu (asli). Pukul 17.15 kami sudah harus menuju stasiun kereta, karena kereta ke Stuttgart akan lewat pukul 17.55.

Pusat Factory Outlet di Metzingen

Pusat Factory Outlet di Metzingen

Tidak banyak yang bisa diceritakan saat perjalanan, karena Alhamdulillah semuanya lancar-lancar saja. Tidak terasa membosankan, karena kehadiran anak-anak dalam rombongan yang lucu-lucu, terutama karena mereka sudah cukup lancar (dan berani) berbahasa Jerman, termasuk saat bertengkar satu sama lain. Rombongan tiba di Stasiun Karlsruhe pukul 20.00 dan bagi Penulis, satu lagi weekend yang menyenangkan.

Demo Anti Bulu Binatang

Demo Anti Bulu Binatang

Punya Situs di GeoCities? Jimdo Siap Menampung Anda!

Dengan akan ditutupnya GeoCities oleh Yahoo!, akan sangat banyak pemilik situs yang kebingungan kan dikemanakan situs-situs mereka. Di lain pihak, Yahoo! pun nampaknya tidak terlalu peduli, terbukti mereka tidak menyiapkan sekadar tool untuk mem-backup seluruh situs yang ada di GeoCities. Fitur FTP hanya tersedia di akun berbayar, yang merupakan satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan. Solusi bagi yang tidak bersedia membayar hanyalah mengunduh satu persatu halaman web yang tersimpan di server GeoCities. Ya, kalau halamannya cuma sedikit, bagaimana dengan yang punya situs web yang njelimet dengan beratus-ratus halaman? Mengingat eksistensi GeoCities yang sudah lebih dari sepuluh tahun, hal itu bukan mustahil terjadi. Menggunakan offline browser/website downloader seperti WInHTTrackadalah cara lain, namun mereka masih harus meng-upload ulang situs lamanya ke server lain.

Dilema ini rupanya ditangkap oleh Jimdo, sebuah layanan situs web gratis dari Jerman. Mereka menawarkan tool untuk memindahkan situs GeoCities Anda ke Jimdo secara gratis. Anda tinggal memasukkan nama URL GeoCities dan alamat e-mail Anda, secara otomatis situs Anda akan dipindahkan ke server Jimdo, lengkap dengan nama akun barunya. Namun demikian, saat Penulis mencoba menggunakan tool ini, tampilan situs Penulis berubah total dan lumayan berantakan, dengan semua tautan pindah ke halaman depan situs! Bagaimanapun juga, tool ini patut dicoba, terutama bagi mereka tak ingin repot dengan urusan download-upload.

Wajah Asli Situs di GeoCities

Wajah Asli Situs di GeoCities

Wajah Situs Setelah Dipindah ke Jimdo

Wajah Situs Setelah Dipindah ke Jimdo

Digsby: Instant Messaging+E-Mail+Social Networking Application

Para pengguna internet sekarang ini tidak asing dengan aplikasi seperti e-mail, instant messaging (chat), atau social networking. Dengan boomingnya Facebook, dipadu dengan mobile internet dan Blackberry, membuat internet menjadi trend terbaru di kalangan masyarakat. Di sisi lain, bagi pengguna internet yang sudah ‘kawakan’, umumnya mempunyai intensitas menjelajah internet yang sangat tinggi. Umumnya pula mereka mempunyai lebih dari satu akun e-mail, instant messaging, dan social networking. Bisa dibayangkan repotnya saat mengecek semua akun tersebut menggunakan browser (webmail) atau aplikasi klien e-mail (POP/IMAP), menginstal satu per satu aplikasi klien IM (Yahoo!, GTalk, MSN, ICQ, AIM), dan mengecek satu per satu situ social networking (Facebook, MySpace) menggunakan browser. Aplikasi klien e-mail dan klien IM multiprotokol (Trilian, Miranda IM, Pidgin, Meebo) bisa mengatasi sebagian permasalahan, namun tetap saja merepotkan karena masih harus membuka tiga aplikasi, klien e-mail, klien IM, dan browser.

Kelola Akun E-mail menggunakan Digsby

Kelola Akun E-mail menggunakan Digsby

Untunglah, sekarang sudah ada aplikasi yang menyatukan ketiga layanan tersebut, yaitu DIgsby. Aplikasi ini telah diset untuk mampu terhubung dengan berbagai layanan populer: webmail (Yahoo! Mail, Hotmail/MSN/WIndows LiveMail, AOL/AIM Mail, GMail), POP/IMAP, Instant Messaging (Yahoo!, MSN/Windows Live, ICQ, AIM, GoogleTalk, Jabber, Facebook Chat), dan Social Networking (Facebook, MySpace, Twitter,LinkedLn). Anda tinggal mendownload dan menginstal aplikasinya, kemudian mendaftarkan akun Digsby, yang akan menyimpan semua informasi login Anda. Kemudian, Anda tinggal mengeset semua login e-mail, IM, dan social networking dalam aplikasi dan kali berikutnya DIgsby akan otomatis melakukan login ke semua akun yang Anda punyai.

Kelola Akun Situs Pertemanan dari Digsby

Kelola Akun Situs Pertemanan menggunakan Digsby

Digsby akan menghubungkan Anda dengan semua akun e-mail, IM, dan social networking yang Anda miliki. Saat Digsby sudah dijalankan, dia akan memperbarui status tiap akun Anda. Dengan satu klik pada ikon di system tray, Anda dapat mengecek update terakhir tiap akun. Anda dapat langsung masuk ke situs webmail atau social networking dengan mengklik pada ikon dari akun yang bersangkutan di system tray. Fitur lainnya adalah DIgsby widget yang dapat ditempatkan pada blog atau situs pribadi Anda agar pengunjung situs dapat langsung berinteraksi dengan Anda. Fitur tambahan lain meliputi SMS, Webcam dan Voice Chat (via TokBox), dan Transfer Manager untuk mengatur transfer file via IM.

Widget Digsby untuk Interaksi dengan Pengunjung Situs/Blog Anda

Widget Digsby untuk Interaksi dengan Pengunjung Situs/Blog Anda

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (5)

Okay, mencoba mengulang ‘kesuksesan’ petualangan minggu lalu, kali ini dengan modal yang sama (wochendende ticket), kali ini Penulis dan kawan-kawan kembali bertualang ke Berlin sepanjang akhir pekan ini. Tantangan kali ini lebih berat. Pertama, perjalanan yang memakan waktu 11-12 jam membuat total sehari semalam dihabisakan di atas kereta api. Selanjutnya, salah seorang rekan sudah mendahului pulang ke tanah air, sehingga tersisa empat orang anggota tim. Saat mengajak salah satu anggota 5 besar, ternyata yang bersangkutan telah punya rencana ke Roma. Namun akhirnya menjelang berangkat, kami berhasil mendapatkan satu orang lagi untuk melengkapi tim (dan menghemat €4 sekali jalan).

Jadwal Perjalanan Karlsrue-Berlin PP

Jadwal Perjalanan Karlsrue-Berlin PP

Toh, perjalanan memang tak semulus minggu lalu. Saat menjelang berangkat, kami dicemaskan dengan kedatangan anggota kelima yang baru tiba di detik-detik terakhir menjelang kereta pertama berangkat pukul 04.25. Keberangkatan kali ini berganti kereta api di Heidelberg, Frankfurt, Kassel, Sangerhausen, dan Magdeburg sebelum sampai di Berlin. Hambatan muncul di Kassel Hbf saat kereta yang menuju ke Sangerhausen terlambat sampai 15 menit, padahal jarak pergantian ke kereta berikutnya (ke Magdeburg) dari Sangerhausen hanya 8 menit. Akhirnya, mudah ditebak kami (dan sebgaian besar penumpang lain) ketinggalan kereta tersebut. Celakanya, kereta berikutnya ke Magdeburg baru tiba hampir dua jam kemudian. Alhasil, kami pun terdampar di stasiun Sangerhausen selama dua jam. Debat panjang antara  seorang penumpang dengan petugas stasiun tidak membantu sedkitpun. Menunggu adalah pekerjaan paling membosankan di dunia, apalagi stasiun Sangerhausen hanya stasiun kecil dengan fasilitas terbatas. Letaknya pun tidak di tengah kota sehingga tidak ada alternatif lain untuk berjalan-jalan sambil menunggu. Akhirnya kami pun hanya nongkrong di depan loket stasiun yang tertutup rapat (padahal petugasnya masih ada sampai pukul 14.00) sambil makan siang, karena udara di luar sangat dingin. Akhirnya, kami pun tiba di Berlin pukul 17.50, terlambat dua jam dari rencana semula.

Welcome to Berlin

Welcome to Berlin

Sempat menunggu agak lama sebelum dijemput oleh rekan yang selama ini standby di Berlin (terganggu oleh delay 2 jam kami, beliau akhirnya harus bolak-balik ke stasiun), kami pun menuju masjid yang dikelola IWKZ (indonesische Weisheits und Kulturzentrum) kota Berlin untuk konfirmasi soal tempat untuk bermalam. Kami disambut dengan ramah oleh para pengurus masjid yang merupakan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Berlin. Setelah berisitirahat sejenak, kami pun keluar untuk mengukur jalan di Berlin, tepatnya di Kurfürstendamm, yang terkenal sebagai lokasi dari Kaiser Wilhelm Memorial Church, atau yang lebih terkenal dengan julukan “Gereja Buntung”, karena gereja tersebut rusak terkena bom saat Perang Dunia II sehingga rusak parah dan puncak bangunannya runtuh. Sebagai memorial, kondisinya dibiarkan seperti adanya dan di sebelahnya didirikan banugna gereja (kapel) yang baru dan bangunan aslinya dipakai sebagai museum. Sayangnya, karena kami tiba di sana terlalu malam (pukul 20.30), museumnya sudah tutup. Akhirnya, kami hanya berfoto dan menjelajahi pertokoan di kawasan itu. Kemudian dilanjutkan dengan menonoton festival yang berlangsung di pelataran Europa Center. Di antaranya ada pertunjukan akrobat, komedi, dan di sekitarnya banyak stand souvenir dan makanan. Pukul 22.00 kami beranjak ke Alexanderplatz. Suasana sangat sepi mengingat sudah malam dan tidak ada acara (festival) yang berlangsung di sana. Kami menghabiskan waktu dengan mengambil foto Jam Dunia (Weltzeituhr) dan Menara TV (Fernsehtum). Jam Dunia ini berupa sebuah menara yang terdiri atas dua bagian yang melingkar, satu bertuliskan angka 1 sampai 24 yang menunjukkan waktu, dan yang satunya bertuliskan nama-nama daerah waktu di seluruh dunia. Dengan demikian, kita bisa mengetahui jam berapakah di suatu daerah waktu di seluruh dunia. Jam 23.00 kami memutuskan kembali ke masjid untuk tidur.

Weltzeituhr dan Fernsehtum di Alexanderplatz

Weltzeituhr dan Fernsehtum di Alexanderplatz

Keesokan harinya, kami meninggalkan mesjid pukul 07.00 dan bersiap menjelajahi Flohmarkt di pelataran Museum Bode dan Altes. Dari stasiun KA, kami berjalan kaki sambil menikmati pemandangan Berlin yang penuh dengan bangunan bersejarah itu. Sampai di lokasi, ternyata Flohmarkt baru dibuka pada pukul 11.00, sehingga kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di Unter den Linden dan Brandenburger Tor, menikmati pemandangan dan lebih banyak bangunan bersejarah. Sayangnya (lagi), waktu di Reichstag (gedung parlemen), kami tidak sempat masuk ke dalam, karena antrian pengunjung yang sangat panjang, di lain pihak kami tidak punya banyak waktu lagi. Kami pun memutuskan berjalan kembali ke Hauptbanhof untuk kembali ke Flohmarkt yang sudah mulai ramai. Flohmarkt di Berlin ini sangat mengasyikkan dengan banyak item yang dijual mulai barang antik, souvenir, kerajinan, karya seni, juga buku dan rekaman musik. Penulis menghabiskan cukup banyak waktu untuk memilih dari sekian banyak CD musik seharga €4 per judul. Sekitar satu jam setengah kami habiskan untuk berbelanja di Flohmarkt sebelum kembali ke Karlsruhe pukul 12.11.

Branderburger Tor

Branderburger Tor

Perjalanan pulang kali ini mengambil jalur yang agak berbeda dari keberangkatan. Setelah Magdeburg, kami tidak mengambil jalur Sangerhausen-Kassel-Frankfurt-Heidelberg-Karlsruhe, melainkan Erfurt-Wurzburg-Bietigheim-Bissingen-Karlsruhe. Perjalanan pulang berjalan lebih lancar daripada saat berangkat, hanya terjadi delay (kembali) sekitar sepuluh menit di Wurzburg. Beruntung saat di Bietigheim-Bissingen, kami masih ‘ditunggu’ oleh kereta ke Karlsruhe, tidak seperti saat kami ditinggal kereta di Sangerhausen, dan akhirnya kami bisa tiba kembali di Karlsruhe Hbf pukul 23.40. Dan perjalanan panjang Karlsruhe-Berlin pun berakhir.

Bersiap Meninggalkan Berlin

Bersiap Meninggalkan Berlin

Dalam perjalanan kali ini, kami menjumpai beberapa hal unik di kereta-kereta yang kami naiki. Saat naik kereta ke Magdeburg, ada seorang pemuda yang berjualan makanan kecil dan minuman menggunakan sebuah kereta khusus yang mengingatkan pada penjual minuman di kereta api ekonomi/bisnis di Indonesia. Semula kami mengira ia adalah pedagang asongan ala Jerman, sampai saat kami pulang dari Magdeburg ke Erfurt, seorang wanita juga melakukan hal yang sama, dan kami pun menyadari bahwa mereka mungkin merupakan layanan resmi dari dinas kereta api setempat, semacam restorasi di PT KAI. Mereka berdua mengenakan seragam yang sama dengan tulisan “Catering ….(nggak ingat lagi)”. Kemudian di kereta dari Wurzburg, saat mencari tempat duduk, kondektur kereta yang sudah berumur sedang lewat di gerbong yang sama, menemukan koran yang ditinggal oleh pembacanya, mengambilnya, kemudian menatap ke arah kami dan berkata dengan gaya yang kocak, “Meine…” (milik saya), kemudian berlalu. Sesaat kemudian, ia kembali dan dengan gaya yang masih kocak menyodorkan koran itu kepada kami dan berkata,” Das ist alt…” (?) (ini [koran] lama), dan berlalu. Koran itu (Bild) memang edisi lama (8 Juli) dan penuh berisi gosip dan gambar-gambar ‘aduhai’. Dalam perjalanan, beliau memeriksa karcis dan kami sempat bercakap-cakap, diwakili rekan kami yang sudah cukup lancar berbahsa Jerman, mengenai tujuan kami dan keterlambatan kereta. Dengan gaya meyakinkan (dan tetap kocak), beliau meyakinkan kami bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan kami tidak akan ketinggalan kereta ke Karlsruhe, mengingat sebenarnya kami hanya punya waktu Umsteigen (ganti kereta) 5 menit, sedangkan kereta terlambat 10 menit. Dan nyatanya, memang kami masih ditunggu kereta ke Karlsruhe tersebut! Entah apakah beliau punya andil dalam hal ini, kami tetap berterima kasih banyak. Juga kepada para pengurus masjid IWKZ di Berlin, yang kami tidak sempat berpamitan secara langsung, melalui tulisan ini kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas sambutan dan bantuan yang diberikan selamam kami di Berlin. Semoga Allah yang akan membalasnya.

Masjid IWKZ Berlin

Masjid IWKZ Berlin

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (4)

Weekend kali ini Penulis dan 4 rekan memutuskan untuk traveling ke Munchen (Munich), salah satu kota terbesar di Jerman. Kenapa harus berlima? karena ada fasilitas Sonnen-Wochendende Ticket, yaitu tiket kereta api khusus hari Sabtu-Minggu (berlaku selama 27 jam dalam dua hari) seharga €37 untuk naik kereta api di seluruh Jerman, maksimum untuk 5 orang. Jadi setiap orang hanya mengeluarkan €7,40 untuk naik kereta api apapun di manapun di Jerman selama 27 jam pada hari Sabtu-Minggu! Kendalanya tentu soal waktu, agar selama 27 jam itu bisa mencakup pulang-pergi dan jalan-jalan, karena tiket itu tidak berlaku untuk kereta ICE (Inter City Express) yang cepat dan langsung menghibingkan antarkota besar, sehingga pemakai tiket ini akan mengalami beberapa kali ganti kereta untuk mencapai tujuan, bergantung pada jadwal waktu keberangkatan dan kepulangannya.

Untuk weekend ini kami memilih Munchen dengan pertimbangan:

  1. Munchen adalah kota besar, terkenal terutama sebagai basis klub Bayern Munchen.
  2. Munchen tidak terlalu jauh dari Karlsruhe dibandingkan Berlin, misalnya, sehingga bisa ditempuh dalam rentang waktu 27 jam.

Setelah tujuan diseleksi, langkah berikutnya adalah menyusun jadwal, agar bisa diketahui di mana, kapan, dan kereta apa yang harus digunakan agar sampai di Munchen, pada akhirnya akan diketahui waktu total perjalanan yang diperlukan, yang berpengaruh pada waktu jalan-jalan yang akan dialokasikan. Untuk itu, kami pergi ke Karlsruhe Hauptbanhof (Stasiun KA Utama), dan menggunakan mesin otomat tiket yang tersedia. Mesin ini bisa mengecek jadwal perjalanan dan sekaligus memesan tiket untuk semua jenis perjalanan dengan kereta api. Kita tinggal memasukkan stasiun keberangkatan, tujuan, tanggal dan jam keberangkatan/kedatangan, jenis kereta api yang digunakan (ICE, RE, S), danmesin akan memberikan beberapa alternatif jadwal. Kita bisa memilih salah satu dan membuat printoutnya untuk pegangan saat melakukan perjalanan sebenarnya.

Time Table

Time Table

Karena kami merencanakan untuk berangkat hari Sabtu jam 04.00 dan pulang sorenya pukul 17.00, kami mendapatkan jadwal keberangkatan yang dimulai pukul 04.25 yang sampai di Munchen pukul 10.24 selama 5:59 jam dan berganti kereta 5 kali. Jadwal pulang kami diawali pukul 17.06 dan sampai di Karlsruhe pukul 23.38 selama 6:32 jam dengan berganti kereta dua kali. Sebagai antisipasi, kami juga mencetak jadwal pulang yang dimulai pukul 16.32 sampai pukul 21:53 selama 5:21 jam dengan berganti kereta 3 kali.

Awal petualangan diawali malam harinya saat kami semua sepakat untuk menginap di rumah salah satu rekan untuk menyiapkan segalanya, termasuk perbekalan makanan untuk makan siang. Kami nyaris tidak tidur semalaman. Sebelum berangkat pukul 3.00 kami menyempatkan untuk ’sarapan’ terlebih dahulu. Diawali naik tram S5 ke Stasiun, kami menyempatkan slat Subuh di peron dengan diawasi sekelompok anak muda yang keheranan melihat kami menggelar sajadah dan salat berjamaah. Pukul 04.25 kereta pertama ke Durlach tiba.

Salat Subuh di Karlsruhe Hbf

Salat Subuh di Karlsruhe Hbf

Di Durlach kami menunggu selama 30 menit sebelum naik kereta (tram) ke Bietigheim-Bissingen. Sebelas menit tersedia untuk pindah ke kereta ke Stuttgart. Dari Stuttgart, perjalanan dilanjutkan ke Ulm, Augsburg, sebelum akhirnya tiba di Munchen pukul 10.24. Sempat kebingungan di Munchen Hbf yang sangat besar dan ramai, untungnya kami sempat browsing tentang jalur transportasi ke tujuan wisata (Allianz Arena dan Olympiapark). Kami kemudian naik kereta S27(?) (underground) ke Marianplatz dan pindah ke kereta U6 menuju Allianz Arena. Dari halte ke stadion jaraknya lumayan jauh (sekitar 10 menitan jalan kaki), namun antusiasme melihat bentuk Allianz Arena yang bak donat dari jarak jauh membuatnya tidak terasa melelahkan. Sayangnya, untuk bisa masuk ke tribun penonton dan menatap lapangan hijau dari dekat harus megikuti stadium tour seharga €10, sehinggakami pun memutuskan untuk melakukan wisata belanja di toko-toko cinderamata di kawasan stadion. Ada beberapa toko, di antaranya milik stadion sendiri, Audi, T-Mobile, klub TSV 1860 Munchen, dan tentunya yang paling diminati adalah milik FC Bayern Munchen. Sedikit rasa kaget muncul menyaksikan barang-barang dalam toko, lebih kaget lagi menyaksikan harganya yang puluhan hingga ratusan euro. Akhirnya kami cukup memuaskan diri dengan membeli beberapa barang sale yang harganya tak lebih dari €10/item. Sebelum pergi, kami menyempatkan diri makan siang lesehan di salah satu sudut stadion. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00.

Penulis di Depan Allianz Arena

Penulis di Depan Allianz Arena

Karena waktu yang mepet, kami bergegas menuju halte dan menuju Olympiapark naik kereta U3. Sampai di sana kami memusatkan kunjungan di BMW Welt, sebuah showroom raksasa yang memamerkan teknologi terbaru BMW, di antaranya sebuah mobil hybrid concept dan satu ruang khusus untuk BMW Z4 yang merupakan penerus generasi Z3 yang pernah digunakan dalam film James Bond. Karena waktu yang kurang memungkinkan, kami terpaksa mengakhiri kunjungan di Olympiapark tanpa mengunjungi obyek lain seperti BMW Museum dan Olympia stadium.

Museum BMW

Museum BMW

Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Marianplatz, salah satu pusat keramaian di Munchen. Kami kembali naik kereta U3 kembali ke pusat kota, naik tangga ke atas, dan…voila, bertemu dengan keramaian di Marianplatz. ternyata, tengah berlangsung konser musik dalam rangka Christopher Street Day, yang merupakan festival untuk melawan diskriminasi terhadap kaum gay. Suasana yang riuh rendah dan banyaknya orang yang berlalu lalang membuat nyali kami cukup ciut dan bergegas kembali ke bawah tanah untuk kembali ke Munchen Hbf.

Christopher Street Day di Munchen

Christopher Street Day di Munchen

Dari rencana pulang pukul 17.00, keramaian di Marianplatz membuat kami malah mempercepat jadwal kepulangan menjadi pukul 16.32. Kali ini perjalanan lebih singkat dan lancar, mulai dari Munchen ke Aurgburg, dilanjutkan ke Ulm dan Stuttgart, dengan jeda masing-masing 15 dan 13 menit. Di Stuttgart, sebelum naik kereta api ke Karlsruhe ada jeda waktu 1 jam. Kami menghabiskannya untuk berjalan-jalan di sekitar Stasiun Kereta dan makan malam. Akhirnya, pukul 21.53 kami tiba di Karlsruhe Hbf, dan berpisah untuk menuju kediaman masing-masing dengan mata berat dan kaki pegal, namun hati yang puas.

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (3)

Seminggu sudah Penulis hidup di Jerman (Karlsruhe), banyak sudah suka duka pengalaman yang dialami Penulis dan rekan-rekan. Banyak adaptasi yang harus dilakukan, mulai soal cuaca, bahasa, cara hidup, dan lingkungan sekitar yang sangat berbeda dengan Indonesia. Banyak dari hal itu bisa dipelajari terlebih dahulu, namun tentu saja kenyataan yang dihadapi akan berbeda dari apa yang dipelajari sebelumnya, kadang sangat berbeda.

Wohnung

Wohnung

Pertama, soal pemukiman. Kami di Karlsruhe tinggal di semacam rumah susun, yang tiap bangunannya terbagi atas beberapa bagian (jadi, rumah nomor 1 akan terbagi menjadi nomor 1A, 1B, dst). Tiap bagian terbagi lagi atas beberapa lantai (empat di tempat Penulis), dan tiap lantai terbagi menjadi dua bagian (suite). Tiap suite dapat diibaratkan sebuah rumah kontrakan, yang terdiri atas beberapa kamar tidur, kamar mandi, dan dapur (merangkap kamar cuci). Jika kita menyewa satu kamar, maka kita akan berbagi kamar mandi dan dapur dengan para penghuni lainnya. Fasilitas hunian biasanya lengkap, semua perabotan disediakan: tempat tidur, lemari, meja tulis, rak, kemudian di dapur pun sudah lengkap dengan kompor gas, oven, microwave, lemari es, alat makan, dan biasanya juga mesin cuci. Kamar tidur dilengkapi pemanas dan dibangun dengan konstruksi yang memungkinkan isolasi panas (wallpaper, pelapis dinding dan lantai, lantai kayu). Sistem kunci hanya digunakan untuk membuka pintu dari luar (pintu akan mengunci otomatis saat menutup), sedangkan siapapun bisa keluar rumah tanpa menggunakan kunci. Pada beberapa flat, penghuni hanya membutuhkan satu kunci untuk membuka pintu flat, suite, dan kamar tidurnya. Saat bertamu, kita mengebel nomor suite yang tepat, dan penghuni tinggal menekan tombol kunci pada interkom untuk membukakan pintu. Kebutuhan bersama akan diatur oleh sesama penghuni, termasuk tanggung jawab kebersihan. Rekening listrik (unlimited) dan internet (high speed!) biasanya termasuk dalam biaya sewa.

Kedua, masalah cuaca. Kebetulan saat ini musim panas, sehingga tidak memerlukan banyak penyesuaian karena suhu rata-rata mirip dengan kota pegunungan di Indonesia. Hujan yang turun pun tidak sederas di Indonesia, yang kadang-kadang menyebabkan banjir. Mungkin perbedaan waktu yang lebih menantang. Karlsruhe (dan Jerman umumnya) berselisih waktu 6 jam dengan Indonesia. Untuk musim panas diberlakukan Daylight Saving Time dengan memajukan waktu satu jam, sehingga selisihnya tinggal 5 jam. Itu saja cukup menimbulkan masalah jetlag, belum lagi kenyataan bahwa di musim panas, matahari baru terbenam pukul 10 malam!

Cuaca di Karlsruhe

Cuaca di Karlsruhe

Konsekuensinya, waktu salat pun menjadi agak aneh bagi yang terbiasa di Indonesia. Waktu duhur adalah jam 01.30, Asar 05.30, Magrib 09.30, Isya 11.45, dan Subuh 03.00. Belum lagi kenyataan bahwa susah menemukan tempat salat di tempat-tempat umum. Sampai saat ini Penulis belum berhasil menemukan masjid. Salat Jumat pun dilaksanakan di kampus Universitaet Karlsruhe. Bisa dibayangkan saat bulan Ramadan tiba nanti.

Ketiga, soal makanan. Sebenarnya tidak terlalu susah menemukan makanan dengan selera Indonesia. Dengan catatan, pertama Anda punya dana tak terbatas, tersedia banyak rumah makan Asia atau Turki, juga Fast Food. Kedua, bagi yang suka memasak sendiri, tersedia toko yang menjual bahan-bahan masakan khas Asia: beras, bumbu, mi instan, tempe, sambal botol, cabe kering semuanya tersedia. Bagi Anda yang mempunyai dana terbatas disarankan mengombinasikan menu nasi dengan menu lain yang lebih mudah didapat, seperti roti, sereal, pasta, atau kentang. Selain itu bahan makanan yang ‘umum’ seperti telur, susu, sayur, dan buah juga cukup terjangkau. Yang agak susah mungkin daging dan menu yang mengandung daging, karena didominasi oleh menu daging babi, terutama produk kebanggaan Jerman: sosis (wurz). Solusinya, Anda bisa membeli makanan berdaging di kedai Turki yang menjual kebap, ayam, pizza, atau hot dog yang halal.

Makan Ayam di Kedai Turki

Makan Ayam di Kedai Turki

Keempat, masalah bahasa. Ada baiknya mempelajari bahasa Jerman sebelum pergi ke Jerman. Kalaupun dianggap sulit, gunakan jalan pintas dengan menggunakan buku-buku yang berisi ungkapan, pertanyaan, dan jawaban dalam bahasa Jerman, atau minimal kuasai beberapa kata penting dalam bahasa Jerman seperti selamat pagi, terima kasih, kata-kata tanya, angka, dan ekspresi seperti menanyakan kemampuan bahasa Inggris.

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (2)

Weekend ini dihabiskan dengan berkunjung ke Flohmarkt (semacam pasar kaget+garage sale) di Mercado. Flohmarkt ini dilaksanakan setiap hari Sabtu pukul 07.00 - 15.00. Di sini bisa ditemui barang-barang bekas dan barang-barang baru dengan harga miring mulai dari souvenir, mainan, buku, CD/PH, alat pertukangan, elektronik, pakaian, sampai bahan makanan dan sepeda. Sementara teman-teman Penulis asyik memborong baju, tas, dan mainan anak, Penulis cukup ‘mengutip’ beberapa mainan bekas seharga € 0,50 sampai € 1.

Flohmarkt

Flohmarkt

Sabtu sore dihabiskan di Museum, yang bernama lengkap Staatliches Museum fur Naturkunde Karlsruhe. Di dalamnya dipamerkan berbagai macam binatang yag dikeringkan dalam habitatnya. Untuk ikan, dipamerkan hidup-hidup dalam akuarium, mirip seaworld, namun museum ini tidak memamerkan ikan-ikan raksasa macam hiu atau paus. Di samping itu, juga dipamerkan bermacam-macam mineral, fosil hewan purba, dan pameran khusus Magadaskar. Tiket masuk museum sebesar € 3/orang. Sayangnya, saking serunya menggeber kamera, baterai habis di tengah jalan, dan setengah isi museum belum sempat diabadikan.

Museum

Museum

Hari Minggu, yang direncanakan ke Heidelberg/Matzingen terpaksa batal gara-gara dua rekan mendadak sakit. Akhirnya diputuskan untuk berkeliling Karlsruhe dan sekitarnya. Pertama, kami mengunjungi daerah Durlacher, tepatnya di Tumberg, yaitu bukit yang bisa dinaiki dengan kereta, dengan tiket seharga € 1,50 sekali jalan atau € 2,30 bolak-balik. Tiba di puncak, dilanjutkan dengan mendaki sebuah tower kuno yang dari atasnya kita bisa melihat panorama kota Karlsruhe.

Karlsruhe from Above

Karlsruhe from Above

Selanjutnya, kami mengunjungi Baden Baden, sebuah kota kecil di bagian utara selatan Karslruhe. Sayangnya, karena kurang persiapan, kami sempat menghabiskan banyak waktu hanya untuk menuju kota ini. Dimulai dengan pemilihan jenis kendaraan, yaitu bus dilanjutkan dengan tram yang salah jurusan, praktis kami hanya menghabiskan waktu sejam di Baden-Baden. Akibatnya, banyak obyek yang tidak sempat dikunjungi. Ditambah lagi sandal salah seorang rekan putus di tengah jalan, membuat yang bersangkutan malas melanjutkan petualangan. Nama Baden dalam bahasa Jerman berarti mandi, dan Baden-Baden terkenal dengan spa di samping kasino, hotel mewah, dan pacuan kudanya. Nama Baden-Baden diberikan pada tahun 1931 yang berarti: Baden in Baden (Mandi di kota Baden).

Trinkhalle

Trinkhalle

Jerman yang Bukan Jejer Kauman (1)

Yep, we’re in Germany now… setelah melalui berbagai trik dan intrik seputar keberangkatan ke Jerman, akhirnya mulai awal bulan Juli ini Penulis berhasil menapakkan kaki di tanah Bavaria, tepatnya di kota Karlsruhe. Penantian panjang selama 8 bulan berakhir saat invitation letter tiba pada pertengahan Juni lalu. Gerak cepat pun dilakukan untuk mengurus visa dan tiket, sampai keberangkatan dini hari tanggal 1 Juli 2009 ke Frankfurt via Dubai.

Dubai Airport

Dubai Airport

Penerbangan selama kurang lebih 18 jam (dengan konversi zona waktu), termasuk transit 3 jam di Dubai, ternyata tidak terasa terlalu melelahkan. Mungkin karena Penulis terbang bersama dua rekan lain, kondisi mental yang sedang naik, dan fasilitas selama penerbangan terbilang memuaskan. Sampai di Frankfurt jam 13.15 waktu setempat, masih harus ditambah 1 jam perjalanan berkereta api ke Karlsruhe. Sampai di sana, sempat terbengong-bengong di Karlsruhe Hauptbanhof (Stasiun KA Karlsruhe) sebelum rekan-rekan penjemput datang. Langsung saja kami bertiga membeli tiket trem yang kebetulan sedang promosi musim panas, 15 € untuk 10 hari penuh, 24 jam, gratis naik trem ke seluruh Karlsruhe!

ICE ke Karlsruhe

ICE ke Karlsruhe

Kesan pertama keliling Karlsruhe, tentu saja banzak orang Jerman (ya iyalah…), kota yang relatif bersih, trem yang nyaman (mirip busway, tapi dijamin bebas macet), mobil-mobil yang keren di sepanjang jalan, dan… udara musim panas Jerman yang nggak jauh di beda dengan di Indonesia (suhu sekitar 25-28 derajat, setara di Bandung). Matahari baru terbenam sekitar pukul 10.00 waktu setempat dan sudah terbit lagi sekitar pukul 04.00 (kebayang kalau puasa nanti).

Hujan di Karlsruhe

Hujan di Karlsruhe

Hari Jumat kemarin, ikut salat Jumat di Universitat Karlsruhe. Acara yang biasanya diselenggarakan di dalam ruangan dipindah ke lapangan luar. Pesertanya cukup beragam, dari berbagai negara dan bangsa, termasuk Jerman sendiri. Khotbahnya pun dalam bahasa Jerman, cukup membuat bengong (teringat saat mendengarkan khotbah berbahasa Sunda di Bandung dulu). Selesai Jumatan, hujan pun turun, lumayan deras dan lama, dari pukul 02.30 sampai pukul 06.30. Sore harinya, gara-gara terlalu pede, Penulis dan tiga rekan mengubah acara makan sore menjadi pesta Pizza gara-gara memesan 4 porsi pizza yang ternyata per porsinya itu seukuran medium di Pizza Hut!. Sampai akhirnya dengan sedikit perjuangan, empat porsi itu bersisa satu setengah porsi untuk dibawa pulang.

Pizza Party!

Pizza Party!