Dalam tulisannya di majalah PC Media edisi 03/2009, Bernaridho Hutabarat menunjuk pengembang software open source sebagai pengemis, Stallman sebagai nabi palsu, dan open source membuat AS kehilangan daya saing melawan Jepang dan China yang ‘pelit’ membagi rahasia dagangnya. Beliau juga memproklamasikan diri sebagai probisnis dan Steve Jobs lebih hebat dibandingkan Linus Torvalds.
Yang dijadikan contoh adalah Wikipedia dan FreeBSD, yang memohon sumbangan secara terang-terangan di situsnya untuk membiayai kelangsungan software open source mereka. Bahwa hampir setiap perusahaan IT membuat proyek open source karena takut ketinggalan zaman, dan harus menyubsidinya terus-menerus dari pendapatan di sektor lain (IBM dengan penjualan hardwarenya).
Lebih ekstrem lagi, open source dibandingkan dengan industri mobil yang katanya serbatertutup. Industri mobil Jepang berjaya karena pelit membagikan teknologinya dibandingkan industri mobil AS yang bangkrut dan minta stimulus fiskal dari pemerintahnya (Wow!). Digarisbawahi bahwa rahasia dagang tidak seharusnya dibagi-bagi secara gratis dan AS harus berhenti menjadi nabi supaya industrinya bisa bersaing.
Membaca sebuah artikel tentang open source dari perspektif lain memang menyegarkan. Setelah bertahun-tahun mengikuti perkembangan open source yang semakin semarak, bahkan pemerintah RI juga sudah punya IGOS (Indonesia, Go Open Source!) untuk menggalakkannya. Tentu saja, ada beberapa hal yang bisa ditanggapi dari sudut pandang Penulis, yang bukan pakar, akademisi, atau pebisnis ini.
Pertama, tidak semua proyek open source itu ‘pengemis’, itu hanya salah satu model pembiayaan. Dan open source itu antibisnis? wow, bahkan Steve Jobs sendiri menggunakan kernel BSD yang open source itu sebagai basis MacOS X, dan tidak ada yang menuduhnya antibisnis. Apa bedanya yang dilakukan Jobs dengan yang dilakukan RedHat dan Novell dengan produk RedHat Enterprise Linux dan SUSE Enterprise Linux yang berbasis Fedora dan openSUSE yang gratis itu? Sampai detik ini belum terdengar berita RedHat dan Novell bangkrut dan minta stimulus fiskal ke pemerintah AS.
Model bisnis open source yang lain dilakukan oleh IBM dengan bundling Linux dalam server-server yang dijualnya, kemudian menawarkan paket support service untuk itu. Dengan model bisnis seperti itu, IBM merasa tak perlu lagi berjualan PC dan notebook yang sangat kompetitif dalam soal harga dan marginnya tipis, kemudian menjualnya ke Lenovo.
Model pembiayaan open source tanpa kegiatan komersial dilakukan oleh Mozilla Foundation dalam mengembangkan Firefox dan Thunderbird. Caranya, dengan bekerja sama dengan Google, sejumlah royalti dibayarkan untuk setiap pencarian yang dilakukan menggunakan search box di sebelah kanan atas browser Firefox. Pendapatan dari Google mencapai USD 56,8 juta (2006), lebih dari cukup untuk melawan hegemoni MS Internet Explorer.
Lalu mengapa Wikipedia menjadi pengemis? ya, karena Jimmy Wales (owner Wikipedia) ingin menjadi Nabi (seperti Richard Stallman?) dan menolak segala bentuk model bisnis open source di atas. Sampai saat ini, bila diperhatikan, website Wikipedia tetap bersih dari iklan dan sponsor dalam bentuk apapun, terlihat maupun tersembunyi. Semua pendapatannya murni didapat dari sumbangan, termasuk beberapa server yang disumbangkan Google. Namun saat Google menawari royalti jika Wikipedia memasang search box Google, Wales menolak mentah-mentah.
Jadi, apakah open source=pengemis? Jika anda berhenti di sana, Anda bisa tersesat, karena yang benar adalah open source=pengemis+bisnisman+pengembangsoftwareterbaikdimukabumi+…
Kedua, tentang rahasia dagang, sangat menarik bagaimana open source dihubungkan dengan resep, probisnis, rahasia dagang, merembet ke industri mobil AS vs Jepang, sampai kebangkrutan GM. Wah, apakah GM juga menerapkan open source? Seingat saya industri mobil yang pernah meriset open source adalah Mercedes-Benz di Jerman, dan sampai detik ini belum ada kabar mereka bangkrut dan minta stimulus fiskal. Sebaliknya, pabrik-pabrik mobil Jepang mulai menarik diri dari ajang otosport dunia: Honda mundur dari F1, Subaru mundur dari WRC, Mitsubishi mundur dari Reli Dakar, Kawasaki mundur dari MotoGP. Lalu, apa hubungannya? Tentu saja, bahwa industri mobil sangat berbeda dari IT. Penulis belum pernah mendengar mobil open source, yang ada mungkin standar industri untuk komponen. Tidak semua industri harus di-open source-kan, dan setahu saya Richard Stallman tidak pernah berkata seperti itu.
Lalu, mengapa daya saing AS melemah? apakah karena industri AS sangat pemurah dan mengobral semua rahasia dagangnya kemana-mana? Sebaliknya, apakah industri Jepang, China, India menjadi maju karena mereka pelit membagi informasi, tidak peduli dengan open source? Setahu Penulis, penggunaan open source di Jepang (dan juga Korea) cukup baik, hanya memang jarang diekspos, di China (dan mungkin India) perkembangan open source tidak terlalu baik lebih karena maraknya pembajakan, seperti halnya di Indonesia. Krisis finansial di AS dipicu oleh kredit (hipotek) properti yang terlalu diumbar, macet, dan pada akhirnya menyeret pasar keuangan dan bursa saham, dan akhirnya seluruh industri. Belum pernah diteliti (dan dibuktikan) bahwa open source software menjadi penyebab krisis di Amerika Serikat (dan Eropa).
Terakhir, nampaknya open source dipandang sangat Amerika-sentris dan menjadi trend yang dipandang kurang sehat dan menguntungkan bagi bisnis. Harus diakui, semuanya berawal di AS, tepatnya di MIT, tempat Richard Stallman waktu itu bekerja. Namun sekarang, open source telah menjadi milik dunia. Linus Torvalds mengawali Linux dari kamar kostnya di Finlandia. RedHat dan Novell boleh jadi berbasis di AS, namun distro Linux terpopuler saat ini, Ubuntu, diinisiasi oleh seorang berkebangsaan Afrika Selatan dan disponsori perusahaan yang berbasis di Isle of Men (Inggris). Lima di antara software open source terpopuler saat ini: Mozilla Firefox, OpenOffice.org, Linux, Apache HTTP Server, dan MySQL database, sudah bukan lagi barang asing bagi pengguna komputer.
Pada akhirnya, waktulah yang akan menguji apakah open source software dan model bisnisnya mampu bertahan. Puluhan proyek baru telah muncul, dan puluhan lainnya mati setiap harinya. Apakah sebuah proyek open source lahir karena hanya ikut-ikutan atau karena ambisi mesias sang pembuatnya bukanlah suatu yang patut dikritisi, karena komunitas yang menjadi kuncinya. Komunitas open source yang mendukung suatu proyek tentu merasakan manfaat dan tidak akan keberatan ‘menyumbang’ sesuatu kepada proyek yang bersangkutan, tidak lebih dari kerelaan mereka untuk membeli software non-open source yang diperlukan.