ad-12 Labs

Because I Can’t Become Somebody Else

Archive for November, 2008


Berapakah Harga Proyek/Software Open Source?

Kebanyakan orang di Indonesia mungkin akan menjawab nol, gratis, atau tidak ada harganya. Dalam konteks yang agak berbeda, ada yang ‘melecehkan’ penggunaan software open source dalam proyek-proyek bernilai miliaran rupiah. Penggunaan software ‘gratisan’ ini dianggap tidak layak dan kecurigaan dana proyek lebih banyak dikorupsi pun mengemuka. Saat satu situs berita menyiarkan kelemahan di salah satu software open source yang populer digunakan sebagai engine situs web (CMS), komentar yang masuk, anehnya, banyak yang menyoroti banyaknya software itu digunakan di proyek pemerintah. Nadanya pun sangat negatif, bahwa software open source yang gratisan itu tak pantas digunakan di proyek bernilai miliaran karena dianggap bermutu rendah dan banyak mengandung kelemahan.

Terlepas dari masalah korupsi yang sudah menjadi rahasia umum, ada dua hal yang patut digarisbawahi. Pertama: benarkah software open source yang gratisan ini tidak layak dihargai miliaran rupiah? Kedua: berpakah harga yang panatas untuk sebuah proyek/software open source?

Hidup di negara yang menderita kesenjangan digital dan lebih puas sebagai pemakai teknologi, bukan pencipta, wajar saja jika fenomena open source hanya dianggap sebatas software gratisan. Kurangnya penghargaan terhadap hak cipta dan kekayaan intelektual yang menyuburkan praktik pembajakan di Indonesia membuat software dianggap tidak ada harganya. Jika software komersial yang aslinya berharga ratusan dollar dianggap tidak ada harganya apalagi yang jelas-jelas gratisan, mungkin dianggap murahan dan tidak layak menjadi software.

Dari sudut pandang lain, ada yang berkomentar bahwa dengan nilai proyek yang miliaran, tidak pantas jika menggunakan software open source yang gratisan (dan murahan itu). Seharusnya, dengan modal miliaran rupiah pemenang proyek bisa mengembangkan softwarenya sendiri dari awal.

Penulis tidak tahu, apakah para komentator itu pernah melaksanakan proyek pemerintah. Dana miliaran rupiah untuk sebuah proyek itu sejatinya tidak semuanya bisa digunakan. Apalagi untuk sebuah proyek yang kompleks seperti website. Apabila mencakup hardware dan maintenance, dana miliaran rupiah pun akan terasa pas-pasan. Alokasi untuk software biasanya hanya belasan sampai puluhan juta saja, itu pun biasanya di-outsource-kan. Selain itu, banyaknya potongan resmi dan tak resmi di sana-sini membuat dana riil untuk pengerjaan proyek menjadi jauh dari nilai totalnya.

Di sisi lain, software open source, apalagi yang populer, sesungguhnya jauh dari yang dibayangkan masyarakat umum. Jika Anda mengembangkan software dari awal, paling banter hanya dikerjakan beberapa programer, yang kurang layak untuk durasi proyek yang terbatas. Sebuah software open source yang populer dikerjakan oleh ratusan sampai ribuan programer di seluruh dunia, sebagian di antaranya programer profesional yang bekerja di perusahaan IT terkemuka di dunia. Software tersebut juga relatif lebih matang dan melalui proses pengujian yang panjang selama bertahun-tahun. Kelemahan software open source cepat dan banyak ditemukan karena penggunanya banyak, sebaliknya juga cepat diperbaiki karena programernya juga banyak. Dukungan untuk software open source juga lebih mudah dibanding tailor-made yang bergantung penuh pada pembuatnya.

Kesimpulannya, dalam sebuah proyek bernilai berapapun, bukan masalah software open source, gratisan, atau murahan ataupun tailor-made (membuat sendiri), namun pemilihan yang tepat untuk proyek yang bersangkutan.

VideoCacheView: Cara Baru Mengunduh Video dari Internet

YouTube telah mengubah cara kita menikmati hiburan dari internet. Tak ada lagi keperluan mengunduh player atau codec yang sesuai untuk melihat video di situs web. Yang Anda butuhkan hanyalah Adobe Flash Player yang kemungkinan besar sudah terpasang di komputer Anda. Kalaulah perlu mengunduh, Adobe Flash Player versi terakhir hanyalah 1 Megabyte-an. File video akan langsung dimainkan di browser web Anda, tentunya dengan sedikit kesabaran jika koneksi internet kurang mendukung.

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan adalah: Dapatkah kita menyimpan klip video yang telah dimainkan di YouTube? Jawabnya, tentu dapat. Caranya? Ada beberapa cara. Yang paling konservatif adalah memeriksa cache browser. File video YouTube yang berformat flv (Flash Video) terlebih dahulu diunduh oleh browser dan disimpan dalam cache untuk kemudian dimainkan. Untuk browser Internet Explorer, cachenya terletak di c:\Documents and Settings\{namauser}\Local Settings\Temporary Internet Files, sedangkan Mozilla Firefox di c:\Documents and Settings\{namauser}\Local Settings\Application Data\Mozilla\Firefox\Profiles\{random}\cache. Dalam folder cache ini nama filenya diacak tanpa extension. Jadi, biasanya kita menebak dengan memilih file dengan besar beberapa MB dengan date modified terakhir. File itu disalin dan ditambahi namanya dengan ekstensi .flv. Lalu, coba mainkan file itu dengan media player yang mendukung flv, misalnya FLV Player atau VLC Media Player.

Cara lain yang lebih mudah adalah dengan menggunakan aplikasi tambahan. Penulis dulu sering menggunakan plugin untuk browser web Firefox. Beberapa yang pernah dicoba antara lain VideoDownloader dan DownloadHelper. Namun, keduanya ternyata sering gagal menjalankan tugas, sehingga cara manual di atas sering harus dilakukan. Cara di atas mungkin efektif, namun kurang efisien (TI abisss…). Sampai Penulis menemukan aplikasi VideoCacheView dari Nirsoft. Aplikasi ini mempersingkat prosedur manual di atas dengan mengorek-ngorek isi cache browser dan hanya menampilkan yang bertipe video. Dari beberapa alternatif yang muncul, kita tinggal menyimpan salah satu yang mungkin cocok dengan yang kita cari.

Menggunakan aplikasi ini cukup mudah. Setelah mengunduh dan memasang, aplikasi ini siap digunakan. Setelah selesai memainkan satu video di YouTube, jalankan aplikasi ini. Secara otomatis, aplikasi akan menampilkan daftar file yang dicurigai sebagai file video yang baru selesai dimainkan. Menurut pengalaman Penulis, biasanya file yang dimaksud berada di paling bawah dengan nama flaxx.tmp. Kita tinggal mengklik nama file lalu memilih tombol kedua (Copy Selected Files to…), atau dengan klik kanan lalu memilih opsi Copy Selected Files to… atau langsung menekan tombol F7. Apabila ragu-ragu, file bisa diperiksa dulu dengan memainkannya pada player default.

Jika Anda memainkan video lain, tinggal tekan tombol refresh untuk menampilkan file video yang baru. VideoCacheView mendukung Internet Explorer, Mozilla Firefox, Opera, dan Google Chrome. Untuk layanan video selain YouTube, Penulis belum mencoba namun jika prinsipnya serupa maka VideoCacheView juga bisa digunakan.