ad-12 Labs

Because I Can’t Become Somebody Else

Archive for July, 2008


Countdown to… Elimination

Mendekati akhir Juli berarti semakin dekat saat ‘eliminasi’ akhir untuk 5 besar yang akan mengikuti program joint degree di Jerman selama 10 bulan mulai Oktober 2008 - Juli 2009. Sebuah impian bagi semua peserta program ini, yang seharusnya tidak terjadi. Namun, seperti halnya semua hal yang "too good to be true", begitu juga situasi yang kini dihadapi. Antara kesiapan penyelenggara dan sinkronisasi dengan ketiga institusi penyelenggara membuat sebuah rancangan yang begitu bagus menjadi nyaris sebuah lelucon. Situasi penuh ketidakpastian yang tercipta membuat rasa ketidakpuasan, ketidakpercayaan, dan yang pasti, perasaan saling curiga antarpersonal. Dan saat kelima nama itu diumumkan, maka berakhir sudahlah semua kebersamaan itu, semua perasaan senasib itu. Dan memang pada akhirnya semua akan kembali ke alamnya masing-masing. Siapapun yang terpilih nanti, beban berat sudah pasti dihadapi. Bagi lima prang yang tersisih, bergantung pada pribadi, akan rasa puas ataupun tidaknya. Bagi Penulis sendiri, alasan untuk lolos atau tidak lolos sama besarnya, sehingga apapun hasilnya tak jadi soal. Tentu saja Penulis tidak bisa mewakili 9 orang lainnya.

Neverending Schedule

Semula, banyak yang mengira periode kuliah di Bandung ini akan jauh lebih santai dibandingkan di Jogja karena jumlah matakuliah yang lebih sedikit (enam), dan dosennya tetap (di Jogja ada tiga dosen per mata kuliah, dan ada delapan mata kuliah). Belum lagi kuliah yang diberikan dalam Bahasa Indonesia. Namun ternyata anggapan itu akhirnya terkubur dalam dengan kenyataan berikut: ada jadawal Les Bahasa Jerman dua kali seminggu empat jam per pertemuan, untuk dua kelompok, yang berarti sudah memakan jadwal 16 jam seminggu. Kemudian ada kegiatan seperti kursus dan seminar minggu kemarin (30 Juni - 2 Juli). Belum lagi, dosen-dosen yang sedang laris-larisnya menyumangkan jasa untuk dunia pertambangan yang sedang naik daun saat ini.

Belum lagi mengingat tradisi di sini yang tidak mengoordinasi pelaksanaan UTS secara bersamaan. Akibatnya, rentang jarak antara UTS satu mata kuliah dan yang lain terentang sampai hampir sebulan. Parahnya, beberapa teman kami terserang penyakit mulai lupa (jadwal), sampai yang sakit beneran. SIstem informasi penjadwalan pun semakin melantur, sampai Penulis pun menjadi korban Jumat kemarin. Ya, bahkan hidup di ketidakpastian menjadi tidak terlalu menarik sekarang. Just wait for the judgment day now…