Konon, semua orang, khususnya orang Indonesia suka barang gratisan. Maka dari itu, setiap ada yang namanya undian berhadiah, kuis, atau sekadar pembagian sampel barang, banyak yang berebut. Ada promosi nelpon gratis, jaringan operator sampai overload karena semua orang menelepon pada saat yang bersamaan (yang sebenarnya offpeak). Waktu Penulis pertama mengenal internet, salah satu yang pertama dikejar adalah barang gratisan, yang dikenal juga dengan freebies. Tentu saja dimulai dengan email gratis, hosting gratis, penyimpanan gratis (briefcase), album foto gratis, sampai intranet gratis. Kurang puas dengan itu, pencarian barang gratis diperluas sampai barang-barang seperti buku, CD, mousepad, IC, kaos, majalah, brosur, katalog, sampai pembersih printer. Dulu, setiap minggu ada saja surat panggilan dari kantor pos untuk mengambil barang kiriman dari luar negeri. Modalnya, cuma betah nongkrong di warnet.
Kegandrungan akan barang gratis masih berlangsung hingga kini, meski tak separah dulu. Sekarang masih ada saja kiriman majalah dan CD gratis, tentunya sekarang berguna untuk referensi dalam pekerjaan. Modus operandi lain adalah mengunjungi pameran-pameran komputer dan buku di kawasan senayan. Biasanya, selain setumpuk brosur dan beberapa buku/majalah/CD yang sengaja dibeli (dengan harga obral), ada saja majalah/buku/koran/tabloid/CD gratisan yang terselip. Dengan trik tertentu, kita bisa dapat lebih dari satu sampel gratis tersebut, yaitu dengan berputar-putar dan kembali ke lokasi yang sama. Fatalnya, kalau kita dapat edisi yang sama, cuma menambah berat tas di punggung saja.
Rupanya, kebiasaan itu menular di dunia IT, khususnya software. Kita umumnya enggan membayar perangkat lunak komputer yang kita gunakan. Menggunakan open source juga tidak menyelesaikan masalah, karena kita malas menghadapi persoalan tambahan saat menggunakannya. Jasa pengerjaan proyek IT pun ditekan sangat rendah, kadang-kadang tidak dibayar sama sekali. Jangankan itu, memecat pegawai (tetap) saja tidak diberi pesangon, coba….