ad-12 Labs

Because I Can’t Become Somebody Else

Archive for April, 2006


Only Happens in Dilbert World…Right?

Kisah ini sudah sebulan berlalu, namun tetap saja menggelitik untuk disimak. Saat situs web sebuah kota (Tuttle di Oklahoma, USA) mengalami crash dan yang tampil adalah halaman default server web (Apache HTTP Server di atas sistem operasi CentOS), sang manager mengira situsnya telah di-hack oleh CentOS mengatasnamakan suku Apache! dan mengancam untuk melaporkannya ke FBI. Butuh waktu panjang dan beberapa e-mail untuk menjelaskan bahwa CentOS tidak ada hubungannya dengan suku Apache dan hacking, dan bahwa seharusnya mereka menghubungi pihak hosting web. Dalam salah satu e-mail, sang manager dengan bangga menyebut dirinya "22 Tahun berpengalaman di bidang IT sebagai Program Manager". Dan Anda mengira ini hanya bisa terjadi di dunia Dilbert?

Bench Games II: Get Your Certification Now

Bench Games II akan diselenggarakan pada tanggal 1 15 - 15 31 Mei 2006. Bench Games adalah kompetisi adu banyak sertifikasi Brainbench, yang dihitung per negara. Selama periode kompetisi, semua test sertifikasi di Brainbench (sekitar 400-an) dapat diakses secara gratis. Negara pemenang, dihitung dari jumlah sertifikasi yang dicapai dalam periode kompetisi, akan menerima sertifikat untuk masing-masing individu. Selain itu, ada kompetisi individual berhadiah keanggotaan Brainbench untuk peraih nilai tertinggi dalam setiap sertifikasi, dan tiga iPod juga tersedia untuk peraih sertifikasi secara acak. Tahun lalu, India memenangkan jumlah sertifikasi terbanyak, Indonesia (kalau tidak salah) urutan ke-12. Jadi, siap-siap saja dengan komputer, koneksi internet, dan bahan "kutipan" :D.

Ubuntu 6.06 Beta

Versi terbaru Ubuntu, 6.06 (tertunda dari seharusnya versi 6.04), akhirnya mulai menunjukkan tanda-tanda positif dengan dirilisnya versi Beta. Sekilas, Ubuntu 6.06 yang akan datang mengalami beberapa perubahan penting, di antaranya:

  1. Disatukannya LiveCD dan Installer (mirip MEPIS/Kanotix/PCLinuxOS), menggunakan sistem yang dinamakan Espresso Installer.
  2. Facelift baru, dengan tampilan icon dan susunan menu yang diperbaiki.
  3. Boot time yang (dijanjikan) lebih cepat.
  4. Software versi terbaru: OpenOffice 2.02 dan Firefox 1.5
  5. Graphical Shutdown Screen

Versi resminya akan diluncurkan awal Juni, jadi siap-siap saja untuk memesan :)

GParted LiveCD

Bagi yang suka mengutak-atik konfigurasi komputer, atau mencoba-coba sistem operasi baru (multiboot), tentu sudah akrab dengan yang namanya partisi ulang harddisk. Dulu, partisi ulang berarti pemusnahan massal data-data yang sudah ada, untunglah kemudian hadir perangkat lunak PartitionMagic (produksi PowerQuest, sekarang dibeli Symantec), yang bisa memartisi ulang harddisk tanpa memusnahkan data yang sudah ada. Penggunaannya sangat mudah, dengan antarmuka grafis yang memudahkan urusan partisi, tinggal klik, seret, dan terapkan. Samapai sekarang, untuk urusan partisi, PartitionMagic belum tertandingi. Kemajuan perangkat lunak bebas akhirnya mampu menghadirkan GParted, yang merupakan antarmuka berbasis gtk+ untuk Parted, program pemartisi yang open source. Salah satu versi GParted dipaket dengan sistem operasi Linux menjadi LiveCD yang bisa digunakan untuk booting, sehingga kita bisa melakukan partisi hardisk tanpa mencari-cari PartitionMagic (bajakan) lagi. Selamat mencoba!Gparted_1_small

Besar dan Kecil

Yang dimaksud di sini adalah mayoritas dan minoritas, sebenarnya. Hari ini, terasa sekali betapa relatifnya kedua kata itu. Satu saat kita masuk mayoritas, di saat lain kita menjadi minoritas. Tentu ini bukan mengeluh karena harus berangkat salat Jumat sendirian dari kantor, hanya mengingatkan pada saat bekerja pertama kali dulu. Sebagai penjaga warnet yang kru dan pengunjungnya sebagian besar ‘noni’, perasaan sebagai minoritas sangat terasa. Waktu itu hari Natal dan Lebaran hanya berselisih kurang dari seminggu. Saat Natal, Penulis bersama seorang rekan bertanggung jawab menjaga warnet yang tetap buka (24 jam). Sekarang, Penulis kembali menemui lingkungan yang identik, kali ini menjadi satu-satunya. Hikmahnya, mengunggulkan diri sebagai pemenang karena mayoritas sangatlah naif, karena pengertian mayoritas dan minoritas itu sangatlah relatif. Bisa jadi di sini kita menjadi mayoritas, namun begitu kita melangkah keluar, ke lingkungan lain kita menjadi minoritas, dengan perlakuan yang kurang bersahabat. Alhamdulillah, sejauh ini Penulis belum pernah mendapat perlakuan kurang menyenangkan selama menjadi minoritas.

Visual Studio Express Gratis!

Tanggal 19 April 2006 Microsoft akhirnya memutuskan produk Microsoft Visual Studio 2005 Express yang sebelumnya dinyatakan gratis selama setahun (terhitung November 2005), menjadi gratis untuk seterusnya. Sebelumnya, Microsoft juga merilis Microsoft SQL 2005 Express yang gratis juga. Nampaknya pertempuran sengit di bidang pengembangan perangkat lunak sudah dimulai. Vendor seperti Oracle dan IBM juga sudah merilis database versi gratis, Sun Microsystems melepas perangkat pengembangannya (Sun Java Studio Creator dan Enterprise) gratis (lewat keanggotaan Sun Developer Network), begitu juga Oracle (JDeveloper). Kita juga mengenal perangkat pengembangan gratis seperti Eclipse dan NetBeans, dan database open source seperti MySQL, PostgreSQL, dan Firebird. Mungkin ini saatnya untuk mulai belajar programming.

Bekerja, Belajar, Bermain

Tiga hal yang nampaknya bertentangan, namun sebenarnya bila dipadukan akan menjadikan pekerjaan tidak lagi menjadi ‘kewajiban’, belajar tidak lagi ‘menjemukan’, dan bermain menjadi lebih produktif. Kebanyakan yang berhasil menerapkannya adalah yang bekerja sesuai hobinya. Sehingga kadang-kadang keluar guyonan, nggak dibayar juga nggak apa-apa… Meski tentu akan lain pertimbangannya kalau sudah ‘berbuntut’ di belakangnya. Tak bisa lagi hanya memiirkan diri sendiri (dan idealisme), karena kenyataan yang lebih pragmatis sudah ada di depan mata dan tidak bisa dihindarkan. Pertimbangan bekerja kembali ke orientasi hasil, bukan proses. Syukur-syukur bisa belajar, apalagi bermain :) Karena saat kita belajar atau bermain dengan memikirkan hasil, saat itu juga kita berhenti. Karena kadang-kadang proses bermain/belajar itu tidak membuahkan hasil (konkret). Akhir kata, selamat bermain dan/ belajar dan/ bekerja!

Windows XP on Mac

Ya, bukan lagi sebuah impian, kita bisa menginstal Windows XP dalam Mac (berbasis Intel). Kabar terbaru dari Apple menyebutkan bahwa sistem operasi MacOS yang akan datang (codename Leopard) akan memasukkan opsi untuk menginstal Windows XP berdampingan (dual-boot) dengan MacOS. Teknologi itu, yang disebut Boot Camp, sekarang dalam versi Public Beta, dapat didownload di situs Apple.

#100

Hampir setahun berlalu sejak blog ini pertama ‘gentayangan’, dan sekarang memasuki posting ke-100. Blog ini mulai ditulis pada tanggal 27 Mei 2005, dan sekarang belum genap 11 bulan sejak posting pertama. Sepanjang waktu itu, Penulis mengalami suka duka dalam pekerjaan maupun pribadi. Jika  kinerja pemerintahan seorang Presiden dinilai dari 100 hari pertama, bisakah blog ini dinilai dari 100 posting pertama? :)
Sampai jumpa di 100 posting yang akan datang (!)

There’s Always Be a First Time for Everyone…

Di kantor yang baru, mempelajari Java adalah kewajiban. Pertama masuk, langsung disuruhjadi asisten pelatihan Java Web Service di Departemen Perhubungan selama dua minggu (!). Hari-hari pertama masih sekitar soal instalasi Java SDK, Eclipse, Tomcat, lama-lama merambat ke JDBC, JSP, Servlet, Hibernate, Velocity, WebWork, cukup untuk memaksa Penulis berubah dari asisten menjadi peserta.

Kembali ke kantor, tugas pertama adalah instalasi Asterisk@Home yang sudah berupa 1 distro (berbasis CentOS). Ternyata menggunakan distro ini otomatis menghapus seluruh partisi hardisk (setting server). Padahal harddisk di PC 40 GB, cuma kepake 2 GB. Keesokan harinya coba dipartisi ulang dengan Partition Manager menggunakan CD Boot. Hasilnya, Asterisk@Home tidak bisa booting. Sementara tetap menggunakan distro Asterisk@Home berarti harus hidup dengan command prompt (tidak disertakan GUI, bahkan Xserver juga tidak ada). Sebenarnya bisa diupdate dari internet pake yum, namun di Indonesia belum ada mirror CentOS, dan Penulis belum berani menguras bandwidth kantor untuk update distro dari luar negeri. Akhirnya, Penulis menemukan CD distro CentOS 4.1 di meja kerja, sayangnya distro Asterisk@Home menggunakan CentOS 4.2. Akhirnya, PC diinstal ulang dengan CD CentOS 4.1 baru diinstal Asterisk@Home (manual).

Masalah berikutnya datang saat harus instalasi Java (Sun JDK 1.5). Setelah download dan instalasi JDK1.5 dalam bentuk RPM, ternyata baru diketahui CentOS sudah menyertakan GIJ sebagai JVM default. Akhirnya, setelah menanyakan pada Mr.Google, ketemu link ini. Alhasil, sekarang Penulis sudah bisa menikmati PC dengan CentOS 4.1, desktop Gnome, Java 1.5, Eclipse-WTP 1.0, Asterisk@Home, dan Wildfire.