ad-12 Labs

Because I Can’t Become Somebody Else

Archive for February, 2006


The Phone’s Gone, The Number Stays

Orang Indonesia, khususnya orang Jawa, dikatakan tahan bantingan, tidak pernah goyah didera berbagai cobaan. Harga BBM naik, harga apapun naik, orang Indonesia (Jawa) tetap survive (katanya). Setiap tertimpa musibah, orang Jawa masih bisa berkata, "Untungnya…dst dst dst." Nah, sebagai orang yang kebetulan sejak lahir masih tertahan di tanah Jawa, Penulis akhirnya bisa menemukan ‘keuntungan’ di balik kehilangan handphone tempo hari. Tak lain karena nomor yang lama masih bisa diklaim sehingga tak perlu repot-repot pasang pengumuman pada semua nama di dalam buku telepon. Meskipun pulsa yang terakhir masih 50 ribuan sudah terkuras sampai angka 642 rupiah (benar-benar copet yang efisien). Setidaknya, terima kasih pada XL yang cukup cepat menangani penggantian kartu dengan biaya 18 ribu rupiah saja. Ada gunanya juga register prabayar (!)

Here Goes the Cellphone (again)

Sekali lagi ponselku hilang, sekali lagi di atas angkutan umum. Yang pertama di kereta api, sekarang di atas bus patas AC. Betul-betul suatu kebetulan yang hebat, setelah resmi menganggur (status SJB), HP ilang pula. Sampai bisa mendapat HP baru, atau bisa mengklaim nomor lama, nampaknya komunikasi bakal terputus sementara. Harap maklum. Sudah nasib kehilangan HP setiap awal tahun…:(

Back to Work?

Setelah lontang-lantung selama dua minggu, akhirnya hari ini Penulis kembali ‘bekerja’, ya, selama satu bulan ke depan kembali menjalani pekerjaan, walaupun cuma sementara. Ya, untuk sekadar manjaga cashflow agar tidak terlalu defisit. Same room, same office, same work, same paycheck, same buddies, just different status.

Tak Selamanya (Poster) Film itu Porno

Tempo hari, saat melihat adegan pengganyangan pornografi di Surabaya, nampaknya para pelakunya mulai kehabisan ide. Yang dilakukan bukan menggerebek tempat pelavuran atau melabrak penjual media (majalah/tabloid/VCD/DVD) porno, namun menurunkan dan membakar poster film di bioskop.  Yang terlihat di layar (SCTV kalau tidak salah), postre film Realita, Cinta, dan Rock N’ Roll dan Crash diturunkan serta dibakar dengan gegap gempita. Yang tersisa tinggal pertanyaan, setahu Penulis film porno tidak mungkin diputar (terang-terangan) di bioskop, apalagi film-film yang sudah lolos sensor LSF.  Kalau tema film Realita,Cinta, dan Rock N’ Roll masih nyerempet-nyerempet ‘begituan’ (saya belum nonton), maka tema film Crash adalah rasialisme di Amerika (Los Angeles). Apakah ini berarti para pengunjuk rasa itu mendukung rasialisme?. Semoga saja tidak…

Memento

Nasib jadi pengangguran, jadi banyak waktu untuk melakukan banyak hal, kecuali bekerja. Setelah menghabiskan hari terakhir kerja dengan menyerbu Glodok dan menghabiskan 100 ribu untuk memborong 30 keping CD/DVD, hari-hari berikutnya dihabiskan untuk menonton satu per satu. Salah satu film yang berhasil ditonton adalah Memento, sebuah produksi tahun 2001 karya sutradara Christopher Nolan (yang juga menyutradarai Batman Begins), dan dibintangi Guy Pearce, Carrie-Ann Moss, dan Joe Pantoliano (dua terakhir ini bintang The Matrix).

Filmnya sendiri bercerita tentang Leonard (Pierce) yang menderita sindrom yang menyebabkannya kehilangan ingatan jangka pendek. Ini terjadi akibat pukulan di kepalanya saat mencoba menyelamatkan istrinya yang diperkosa (dan dibunuh) oleh penjahat. Leonard menjalani hidupnya dengan membuat catatan kejadian yang baru dialaminya, membuat foto polaroid benda/orang yang baru ditemuinya, dan membuat tattoo di sekujur tubuhnya mengenai hal-hal penting seputar kematian istrinya. Sepanjang film ini diceritakan usahanya menemukan pembunuh istrinya dengan alur terbalik. Kejadian di awal film adalah akhir film ini, dan kejadian-kejadian sebelumnya diceritakan satu persatu. Di antara fragmen-fragmen kejadian itu, ada gambaran hitam-putih yang bergerak maju, sehingga ada dua plot yang berjalan dan bertemu di tengah-tengah plot, di akhir film. Dalam cerita, Leonard bertemu Teddy (Pantoliano), seorang polisi, yang nyambi sebagai pedagang narkoba yang memanfaatkannya untuk menghabisi Jimmy G, seorang bandar, yang dikatakan sebagai pembunuh istrinya. Selanjutnya, Leonard bertemu Natalie (Moss), pacar Jimmy, yang memanfaatkannya untuk menghabisi Dodd, partner Jimmy.

Meski film ini diceritakan secara terbolak-balik, menariknya, klimaks tetap terjadi di akhir film. Apakah benar istri Leonard terbunuh? Berapa orang yang menyerang mereka? Apakah Leonard sudah membunuh orang yang benar? Siapa sebenarnya Teddy? Siapa sebenarnya John G? Dan akhirnya kita masih akan terus bertanya-tanya…