ad-12 Labs

Because I Can’t Become Somebody Else

Archive for December, 2005


The Last Day (of Work) 2005

Akhirnya…hari terakhir kerja di tahun 2005. Siap-siap untuk long weekend (s.d. 2 Januari 2006). Very much the same as I am in the end of 2004, with a (bit) thicker pocket. Hope for a better condition in 2006. Hari ini SABESO ulang tahun ke-10, lumayan…makan-makan… Menjelang sore, ada tugas mendadak dan mendesak, yah itung2 menjelang libur panjang…:)

2005: Looking Back

(Seharusnya artikel ini mendahului resolusi tahun 2006)

2005 telah berlalu, setahun jadi pekerja white-collar. Riwayat kerja bermula sebulan sebelumnya (07-12-04). Sebelumnya sempat jadi pekerja blue jeans collar di Warnet Teloer selama 9 bulan Oktober 1999 - Juli 2000). Setahun berlalu, banyak milestone dan highlight yang dicapai, sama sekali di luar perencanaan (planning… what planning?) Berikut ini sedikit dari apa yang telah dialami di tahun 2005:

Movie Watching Log

<Sebenarnya posting ini dimaksudkan untuk masukan di situs Multiply kami, namun karena situsnya lagi error (502), maka supaya tidak lupa maka diposting di sini terlebih dahulu — Penulis>

Movie Watching Log memuat daftar film yang pernah ditonton di bioskop selama hayat dikandung badan… Maunya tersusun secara kronologis, namun karena buruknya (baca: tidak ada) dokumentasi yang memadai, maka daftar ini disusun seingatnya. Berikut ini daftarnya, beserta sedikit komentar (seingatnya juga) :

  1. Star Wars III: Revenge of the Sith
  2. Taxi
  3. Eight Heads in a Duffel Bag
  4. Titanic
  5. Evita
  6. Mr. Nice Guy
  7. Bean
  8. The English Patient
  9. Braveheart
  10. Forrest Gump
  11. Blown Away
  12. The Specialist
  13. Speed
  14. Batman Forever
  15. Clear and Present Danger
  16. The Mask
  17. The Shadow
  18. Against the Wall
  19. Silence of the Hams
  20. Robin Hood: Men in Tights
  21. True Lies
  22. Sliver
  23. Home Alone 2: Alone in New York
  24. Jurassic Park
  25. Ramadhan dan Ramona
  26. Unforgiven
  27. Ghost
  28. The Fabolous Baker Boys
  29. Mississippi Burning
  30. Taksi
  31. Langitku Rumahku
  32. Semua Sayang Kamu
  33. Pengkhianatan G 30 S/PKI
  34. Penumpasan Sisa-Sisa PKI di Blitar Selatan (Operasi Trisula)
  35. Tapak-Tapak Kaki Wolter Monginsidi
  36. Arie Hanggara
  37. Namaku…Joe
  38. Sunan Kalijaga
  39. Sunan Kalijaga dan Syech Siti Jenar

…to be continued…

New Year Resolution

Seiring akan segera berakhirnya tahun 2005 dan mulainya tahun 2006, seperti biasa setiap orang beramai-ramai (sebenarnya lebih tepat: sendiri-sendiri) membuat wishlist/resolusi/whatever mengenai 2006. Supaya tidak dikatakan terlambat (masih lebih baik lagi daripada tidak sama sekali), Inilah …. of 2006 :

  1. Find a better job (better salary to be precise)
  2. Finish my novel (like anybody ever care)
  3. Find a me a life (of my own, you know stuff like family, home, vechile, etc etc etc)
  4. Learn something new (and thoroughly)
  5. The most important is staying alive…staying alive (in Barry Gibb’s falsetto)
  6. to be continued…

Mery Christmas and Happy New Year 2006

Mengapa di blog ini ada ucapan selamat natal dan tahun baru namun tidak ada ucapan selamat idul fitri? karena waktu lebaran, penulis terisolasi dari internet di tempat proyek, dan langsung mudik ke Semarang yang kondisinya lebih terisolasi lagi.  As simple as that. Dan lagi, settingan untuk tanggal posting baru ketemu hari ini, payah tenan… dasar kurang gaul….:(

The Fast and the Furious

Suka dengan adegan kebut-kebutan di film seperti The French Connection, The Fast and the Furious, atau The Matrix Reloaded? Daripada sekadar nonton, Anda sebenarnya bisa mengalami langsung di Jakarta. Right in the heart of the city, di sepanjang Sudirman-Thamrin. Semua tentu sudah tahu apa yang penulis maksud, yaitu naik angkutan umum tercepat setelah ojek, Metro Mini. Kendaraan yang satu ini memang yahud dalam soal kecepatan, mungkin cua busway yang bisa menandingi, itu pun karena busway jalannya lempeng, tanpa ada lawan. Momen tergila akan didapatkan saat dua Metro Mini saling berkejaran, entah apa yang mereka kejar. Manuver-manuver ala stuntman pun terjadi, mungkin malah lebih berbahaya karena tidak ada fasilitas pengamannya. Penumpang pun jadi korban, mereka yang turun di halte-halte, buka di persimpangan lampu merah tidak bisa turun di tempat yang seharusnya, tetapi terlewat beberapa meter (kalau beruntung) atau harus turun di tengah jalan kalau mobil terhalang kemacetan. Ini baru naik kendaraan umum tercepat kedua di Jakarta, bagaimana kalau naik angkutan tercepat (ojek) melawan arus? Anda pernah coba? ;)

Multiply and Yet Another Blog

Multiply sekarang punya wajah baru, pake fixed-width centered layout (apa ya artinya itu…).  Tentu saja tetap dengan desain kotak-kotaknya. Lalu, ada pengumuman di situs InfoLinux tentang layanan blog gratis baru, GoBlohLah.com, yang katanya khusus untuk komunitas Asia. Setelah dicoba, ternyata belum ada dukungan bahasa Indonesia, ya namanya juga gratisan. Yang lebih lucu, tampilan antara http://gobloglah.com dan http://www.gobloglah.com beda (kalau mau daftar yang diakses pake www). Akhirnya problem server baru teratasi dengan setup iptables yang baik dan benar, hail to the admin!

Down and Out…

Hari ini sempat terisolasi dari internet gara-gara server gateway di kantor down…Windows NT 4.0 SP6 akhirnya menyerah. Setelah admin menyerah, dipasanglah Linux Waroeng IGOS buat proxy, dan server Windows 2000 buat DHCP server. Sebenarnya penulis sudah menyarankan agar menggunakan distro Linux yang lebih ‘internet-friendly’, terutama yang berbasis Debian. Sayangnya, admin kami masih terjangkit ‘Debianphobia’. Padahal kalau pakai Debian semua aplikasi tinggal di-apt-get dan tidak usah di-setup lagi, semua servis akan berjalan secara otomatis. Sementara Waroeng IGOS sudah cuma 1 CD, nginstal aplikasinya susah (hari gini masih pake RPM…?), dan apt-nya tidak valid repositorinya (pake server Gunadarma…?). Betul-betul menyusahkan. Dikompori pake Ubuntu, katanya susah karena nggak ada user root-nya :)

Antara DVD Bajakan, DVD Asli, dan VCD Asli

Disclaimer: Tulisan ini tidak menganjurkan atau mendorong pembajakan, hanya pengalaman empiris dari seorang penggemar film dengan kemampuan pas-pasan (kadang pas lebih, kadang pas kurang).

Kalau film Indonesia sedang merangkak, perbioskopan Indonesia justru menuju kepunahan. Hampir tak terlihat lagi bioskop kelas menengah ke bawah. Konon karena habis digempur VCD/DVD bajakan. Sangat menyedihkan, mengingat pengalaman Penulis waktu kecil, bioskop adalah sarana hiburan dan rekreasi terbaik. Saat usia Penulis belum genap 17 tahun, sudah terbiasa menikmati film-film macam Mississippi Burning, Ghost, dan Fabolous Baker Boys (he he he he…tentu saja ceritanya belum bisa dipahami, bahkan adegan begituannya juga).

Teknologi VCD baru menyebar luas mendekti abad 21. Sebelumnya, cakram VCD ini terbatas peredarannya dan harganya cukup tinggi (walau sama-sama bajakan). Di tahun 2000-an, VCD bajakan merajalela. Dua tahun terakhir, giliran DVD bajakan naik daun, harganya merosot drastis (terpaut sedikit dengan VCD bajakan) dan kualitas gambarnya lebih bagus (suaranya juga lumayan baik).

Di sisi lain, VCD dan DVD asli pun mulai muncul, dan harganya belakangan pun semakin turun. Tak jarang diberikan diskon besar-besaran di beberapa toko, sampai 70%. Tak jarang Penulis menemui diskon sampai harga 5-10 ribu per judul. Belakangan, harga DVD asli pun ikut dipangkas ke tingkat 50-80 ribu. Masih lumayan tinggi memang, namun bagi penggemar film fanatik dan kolektor, bisa dijadikan pertimbangan.

Jadi, pertimbangan apa yang seharusnya digunakan saat memilih format film? Berikut ini beberapa saran :

  1. DVD sangat superior dalam kualitas gambar dan suara, tentunya jika perangkat keras Anda mendukung (sistem Home Theater). Selain itu, DVD juga memberikan materi ekstra seperti behind the scene (pembuatan film), wawancara, profil dan biografi, deleted scene (adegan yang dihilangkan), trailer, dan video klip.
  2. DVD asli menyertakan fasilitas secara lengkap, dan subtitel bahasa Indonesia (juga di VCD asli), yang di versi bajakannya kadang-kadang super ngaco (terutama film-film keluaran terbaru).
  3. Kompatibilitas keping DVD (bajakan) di player DVD dan drive DVD di PC berbagai merek sangat bervariasi, juga fasilitas yang disertakan. Juga bagi pengguna komputer, Anda harus menginstalasikan codec MPEG2/DVD decoder sebelum bisa memutar DVD di PC Anda.
  4. Jika Anda tidak mementingkan kualitas suara (untuk film-film drama), Anda cukup bisa menikmatinya dalam format VCD (asli).
  5. Jika ingin menikmati DVD (bajakan) kualitas tinggi, Anda bisa menyiasatinya dengan memilih film keluaran lama (2 tahun yang lalu atau lebih). Anda juga bisa memantau perbandingannya dengan versi DVD asli melalui internet atau di toko-toko yang menjualnya.
  6. Dari tadi VCD bajakan nggak dibahas, karena hari gini masih nonton VCD bajakan gitu loh…

GenieOS

Seperti pernah dituliskan dalam Ngoprek Linux in one week, distro terakhir yang dicoba adalah DebianPure, yang memberikan sistem Debian Stable plus desktop KDE/Gnome siap pakai. Setelah break 3 bulan akibat ikut proyek, sempat bingung karena distro ini tiba-tiba menghilang dari internet da DistroWatch. Setelah ditelusuri, ternyata DebianPure berganti nama menjadi GenieOS karena dikhawatirkan melanggar ketentuan penggunaan nama Debian. Rasanya lega, nggak jadi kehilangan distro yang satu ini, makanya kalau ganti nama undang-undang dong slametannya…:D.