ad-12 Labs

Because I Can’t Become Somebody Else

No One But You (Only the Good Die Young)

written by Brian May
performed by Queen
taken from album Queen Rocks (1997)

A hand above the water
An angel reaching for the sky
Is it raining in Heaven -
Do you want us to cry ?

And everywhere the broken-hearted
On every lonely avenue
No-one could reach them
No-one but you

One by one
Only the Good die young
They’re only flying to close to the sun
And life goes on -
Without you…

Another tricky situation
I get to drowning in the Blues
And I find myself thinking
Well - what would you do ?

Yes! - it was such an operation
Forever paying every due
Hell, you made a sensation
(sensation)
You found a way through - and
(You found a way through)

One by one
Only the Good die young
They’re only flying to close to the sun
We’ll remember -
Forever…

And now the party must be over
I guess we’ll never understand
The sense of your leaving
Was it the way it was planned ?

And so we grace another table
And raise our glasses one more time
There’s a face at the window
And I ain’t never, never saying goodbye…

One by one
Only the Good die young
They’re only flying to close to the sun
Crying for nothing
Crying for no-one
No-one but you

(for those who are gone before us, especially for Didang and Doni, we’ll miss you a lot…)

Copy and Paste

Saat pertama kali mengenal internet, keinginan Penulis adalah membuat konten dan punya website sendiri. Setelah terwujud (tahun 1999), tentunya agar situs tetap update, konten terus bertambah, dan tidak hilang dari peredaran. Hampir tak terpikirkan soal melindungi konten dengan hak cipta atau lisensi. Pasang surut pemeliharaan situs ini masih berlanjut sampai hari ini, di era blog dan web 2.0, dengan jumlah situs yang harus di-maintenance yang terus bertambah, sehingga beberapa situs jadi terlantar dan berstatus ‘frozen’.

Salah satu situs yang berstatus frozen adalah situs personal di GeoCities yang tidak diperbarui sejak 2005, dan seluruh kontennya telah dipindahkan ke situs baru. Sejak itu, situs lama tidak lagi dipedulikan. Maka, bisa dibayangkan kagetnya Penulis kala menemukan situs lama Penulis telah dikopi seluruh isinya (hanya diganti judul, footer, dan foto di halaman depan) pada alamat ini (halaman depan hanya bertahan 10 detik sebelum masuk ke halaman lain). Source codenya, termasuk meta refresh 10 detiknya masih bertahan, yang berarti versi terakhir situs ini yang diambil. Nama pemilik situsnya pun diganti menjadi Indah Dewi Permatasari (!).

Jika dilacak ke alamat top domainnya, maka situs ini tak lebih situs yang berusaha menarik pengunjung dengan tawaran-tawaran serbagratis. Situs hasil copy-paste itu dimasukkan dalam link “Dapatkan Tips dan Trik Komputer Gratis”.

Memang ini bukan pertama kalinya Penulis menghadapi hal semacam ini. Artikel Penulis tentang Daftar Distro Linux Indonesia minimal dua kali (ketahuan) dikutip di blog lain tanpa menyebut sumber aslinya. Dengan sopan Penulis mengingatkan hal ini di bagian komentar. Toh, pada dasarnya tidak ada yang melarang pengutipan satu artikel, apalagi di era digital yang serba cepat, asal sumbernya tetap dicantumkan. Kalau satu situs (desain, kode, dan kontennya) yang dikopi, bagaimana menyikapinya? Ada usul?

Situs Hasil Fotokopi Itu

Situs Hasil Fotokopi Itu

AdBlock Plus vs NoScript

Para pengguna browser Firefox tentunya mengenal ekstension AdBlock Plus, yang merupakan addon untuk memblokir tampilan iklan pada situs web yang sedang dikunjungi. Salah satu kegunaan terbesar ekstension ini adalah membuat situs detik.com tampak lebih manusiawi… :). Extension ini bekerja dengan menggunakan daftar hitam (blacklist) yang disebut filterset, yang di dalamnya memuat nama situs, server, dan URI yang berpotensi menampilkan iklan.

Di lain sisi kita juga mengenal extension NoScript, yang mengeblok script, terutama Java, JavaScript, dan Flash pada situs web yang sedang dikunjungi. Dengan kemampuan ini, NoScript juga mampu menahan serangan script berbahaya yang ditanamkan pada situs web tertentu.

Masalah terjadi saat situs NoScript memuat iklan yang oleh pemiliknya diusahakan untuk tetap terlihat walau pengunjungnya menggunakan AdBlock Plus. Sementara AdBlock Plus juga menyediakan whitelist untuk menampilkan iklan pada situs-situs tertentu, pembuat NoScript menginginkan iklannya selalu terlihat dengan memodifikasi instalasi AdBlock Plus pada browser. Untuk beberapa saat, pembuat kedua ekstensi ini saling ‘bertarung’ untuk mempertahankan posisi masing-masing. Sampai akhirnya Mozilla Foundation turut campur dengan mengeluarkan aturan baru yang melarang pembuat ekstensi memodifikasi instalasi ekstensi lain. Versi terbaru NoScript pun dirilis untuk mematuhi aturan baru ini.

GeoCities Akan Ditutup

Satu lagi legenda hidup internet, web hosting gratis populer GeoCities akan ditutup oleh pemiliknya, Yahoo!, tahun ini. Halaman utama GeoCities menyatakan bahwa layanan ini tidak menerima lagi pendaftaran baru. Yahoo! juga telah menutup layanan seperti Photos dan Briefcase beberapa waktu yang lalu.

Layanan yang didirikan oleh David Bohnett dan John Rezner tahun 1994 dengan nama Beverly Hills Internet ini sempat menjadi situs terpopuler kelima pada tahun 1997 sebelum dibeli Yahoo! dengan harga US$ 3,57 milyar pada tahun 1999. Yahoo! kemudian memperkenalkan layanan berbayar dan membatasi transfer data untuk layanan gratisnya.

Memasuki tahun 2000, layanan GeoCities perlahan-lahan tidak populer lagi seiring turunnya harga hosting personal dan semakin populernya blog. Situs pertama Penulis pun dibangun di sini, meskipun sudah tidak diperbarui lagi sejak 2005.

Pendaftaran CD Gratis Ubuntu 9.04 Sudah Dibuka!

Sesuai dengan jadwal, versi terbaru distro Linux Ubuntu 9.04 (Jaunty Jackalope) akan dirilis resmi akhir bulan ini. Sejumlah pembaruan yang diketahui meliputi: update semua aplikasi, terutama OpenOffice.org 3.0, notifikasi update terbaru, dukungan multi-display yang lebih baik, serta dukungan untuk sistem file ext4 dan cloud computing.

Seperti biasa, Canonical akan membagikan CD Ubuntu (desktop/server) dan Kubuntu 9.04 secara gratis. Silakan memesan melalui situs ShipIt (Ubuntu/Kubuntu) dengan menggunakan akun Launchpad masing-masing.

The End of Encarta

Encarta adalah ensiklopedia elektronik populer yang dikembangkan oleh Microsoft. Perkembangan PC multimedia di pertengahan 90-an menjadikan Encarta sebagai ensiklopedia populer, menyaingi reputasi ensiklopedia cetak seperti Britannica dan Americana. Namun, tahun ini Encarta akan berakhir riwayatnya. Microsoft telah mengumumkan penghentian penjualan Encarta mulai 31 Maret 2009, update dan situs Encarta akan berakhir bulan Oktober 2009, kecuali Encarta Japan yang baru berakhir bulan Desember 2009.Microsoft juga akan mengembalikan uang yang telah dibayarkan para pelanggan layanan MSN Encarta Premium.

Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, diperkirakan kehadiran Wikipedia telah membuat Encarta kehilangan sebagian besar penggunanya. Di lain pihak, versi online Encarta juga tidak menarik banyak pengguna. Karena content Encarta tertutup bagi umum, hasil pencarian di Google otomatis akan menempatkan Wikipedia di urutan teratas pencarian. Jika dulu Encarta membuat ensiklopedia cetak berguguran, kini nasib yang sama diterima Encarta dari ensiklopedia online, utamanya Wikipedia.

Linux on Every Desktop/Laptop? Yes, We Can!

Mungkin terdengar hiperbolik, namun bukan berarti mustahil. Sejak sepuluh tahun yang lalu kita mendengar jargon tentang Linux, yang akan menumbangkan hegemoni Microsoft dan Windows di PC desktop. Sekarang, mungkin banyak yang menertawakannya. Windows masih berjaya, bahkan Apple terdengar lebih keren (meskipun mahalnya minta ampun). Linux hanya terdengar di server, dan sejauh ini yang menderita justru adalah Sun Microsystems.

Kehadiran netbook, yang diinspirasi program OLPC (One Laptop Per Child) mula-mula membangkitkan harapan kejayaan Linux. Faktor harga murah dan teknologi open source yang mudah disesuaikan menjadi alasan utama. Namun kini kita bisa melihat bahwa pangsa pasar netbook kembali dikuasai Microsoft, yang mengobral Windows XP yang sebenarnya sudah mau dimuseumkan. Bisa dibayangkan berapa margin keuntungan Microsoft dari harga netbook yang hanya berkisar US$400 - 500 itu?

Di platform lain, seperti PDA dan telepon selular (handphone), Linux masih menjadi anak bawang. PalmOS, Symbian, dan Windows Mobile masih menguasai sektor ini. Belakangan, Apple mulai menggebrak dengan iPhone-nya, dan Google dengan platform Androidnya. Beberapa perangkat mobile berbasis Linux seperti Sharp Zaurus, Motorola seri A dan ROKR (E2) pun bukan produk yang menonjol.

Lalu, di manakah tempat Linux? Sebuah trend baru di kalangan vendor IT akan mengubah cara pandang kita terhadap Linux. DIkenal dengan teknologi “Instant-On” atau “Splashtop”, yang memungkinkan sebuah laptop booting lebi cepat untuk menjalankan aplikasi internet dan multimedia tanpa harus memuat sistem operasi dari harddisk. Secara simpel, teknologi ini memuat sistem Linux dalam Read-Only Memory sehingga memungkinkan startup yang lebih cepat, diklaim sekitar 5 detik saja, mirip dengan era PC-XT dulu saat kita menyalakan komputer tanpa disket sistem operasi dan PC akan menjalankan program BasicA.

Sistem ini diklaim bebas virus dan malware lainnya karena read-only, dan bisa dijalankan paralel dengan sistem operasi lain seperti Windows. Pemilihan Linux tentunya berdasarkan pertimbangan kinerja, fleksibilitas, dukungan hardware dan software, dan tentunya ketersediaan kode sumber (source code). Dell, Lenovo, dan Asus dikabarkan akan menerapkan teknologi ini di produk-produknya, seperti laptop dan motherboard. Jadi, apapun laptopnya, ada Linux di dalamnya!

Pengemis Open Source

Dalam tulisannya di majalah PC Media edisi 03/2009, Bernaridho Hutabarat menunjuk pengembang software open source sebagai pengemis, Stallman sebagai nabi palsu, dan open source membuat AS kehilangan daya saing melawan Jepang dan China yang ‘pelit’ membagi rahasia dagangnya. Beliau juga memproklamasikan diri sebagai probisnis dan Steve Jobs lebih hebat dibandingkan Linus Torvalds.

Yang dijadikan contoh adalah Wikipedia dan FreeBSD, yang memohon sumbangan secara terang-terangan di situsnya untuk membiayai kelangsungan software open source mereka. Bahwa hampir setiap perusahaan IT membuat proyek open source karena takut ketinggalan zaman, dan harus menyubsidinya terus-menerus dari pendapatan di sektor lain (IBM dengan penjualan hardwarenya).

Lebih ekstrem lagi, open source dibandingkan dengan industri mobil yang katanya serbatertutup. Industri mobil Jepang berjaya karena pelit membagikan teknologinya dibandingkan industri mobil AS yang bangkrut dan minta stimulus fiskal dari pemerintahnya (Wow!). Digarisbawahi bahwa rahasia dagang tidak seharusnya dibagi-bagi secara gratis dan AS harus berhenti menjadi nabi supaya industrinya bisa bersaing.

Membaca sebuah artikel tentang open source dari perspektif lain memang menyegarkan. Setelah bertahun-tahun mengikuti perkembangan open source yang semakin semarak, bahkan pemerintah RI juga sudah punya IGOS (Indonesia, Go Open Source!) untuk menggalakkannya. Tentu saja, ada beberapa hal yang bisa ditanggapi dari sudut pandang Penulis, yang bukan pakar, akademisi, atau pebisnis ini.

Pertama, tidak semua proyek open source itu ‘pengemis’, itu hanya salah satu model pembiayaan. Dan open source itu antibisnis? wow, bahkan Steve Jobs sendiri menggunakan kernel BSD yang open source itu sebagai basis MacOS X, dan tidak ada yang menuduhnya antibisnis. Apa bedanya yang dilakukan Jobs dengan yang dilakukan RedHat dan Novell dengan produk RedHat Enterprise Linux dan SUSE Enterprise Linux yang berbasis Fedora dan openSUSE yang gratis itu? Sampai detik ini belum terdengar berita RedHat dan Novell bangkrut dan minta stimulus fiskal ke pemerintah AS.

Model bisnis open source yang lain dilakukan oleh IBM dengan bundling Linux dalam server-server yang dijualnya, kemudian menawarkan paket support service untuk itu. Dengan model bisnis seperti itu, IBM merasa tak perlu lagi berjualan PC dan notebook yang sangat kompetitif dalam soal harga dan marginnya tipis, kemudian menjualnya ke Lenovo.

Model pembiayaan open source tanpa kegiatan komersial dilakukan oleh Mozilla Foundation dalam mengembangkan Firefox dan Thunderbird. Caranya, dengan bekerja sama dengan Google, sejumlah royalti dibayarkan untuk setiap pencarian yang dilakukan menggunakan search box di sebelah kanan atas browser Firefox. Pendapatan dari Google mencapai USD 56,8 juta (2006), lebih dari cukup untuk melawan hegemoni MS Internet Explorer.

Lalu mengapa Wikipedia menjadi pengemis? ya, karena Jimmy Wales (owner Wikipedia) ingin menjadi Nabi (seperti Richard Stallman?) dan menolak segala bentuk model bisnis open source di atas. Sampai saat ini, bila diperhatikan, website Wikipedia tetap bersih dari iklan dan sponsor dalam bentuk apapun, terlihat maupun tersembunyi. Semua pendapatannya murni didapat dari sumbangan, termasuk beberapa server yang disumbangkan Google. Namun saat Google menawari royalti jika Wikipedia memasang search box Google, Wales menolak mentah-mentah.

Jadi, apakah open source=pengemis? Jika anda berhenti di sana, Anda bisa tersesat, karena yang benar adalah open source=pengemis+bisnisman+pengembangsoftwareterbaikdimukabumi+…

Kedua, tentang rahasia dagang, sangat menarik bagaimana open source dihubungkan dengan resep, probisnis, rahasia dagang, merembet ke industri mobil AS vs Jepang, sampai kebangkrutan GM. Wah, apakah GM juga menerapkan open source? Seingat saya industri mobil yang pernah meriset open source adalah Mercedes-Benz di Jerman, dan sampai detik ini belum ada kabar mereka bangkrut dan minta stimulus fiskal. Sebaliknya, pabrik-pabrik mobil Jepang mulai menarik diri dari ajang otosport dunia: Honda mundur dari F1, Subaru mundur dari WRC, Mitsubishi mundur dari Reli Dakar, Kawasaki mundur dari MotoGP. Lalu, apa hubungannya? Tentu saja, bahwa industri mobil sangat berbeda dari IT. Penulis belum pernah mendengar mobil open source, yang ada mungkin standar industri untuk komponen. Tidak semua industri harus di-open source-kan, dan setahu saya Richard Stallman tidak pernah berkata seperti itu.

Lalu, mengapa daya saing AS melemah? apakah karena industri AS sangat pemurah dan mengobral semua rahasia dagangnya kemana-mana? Sebaliknya, apakah industri Jepang, China, India menjadi maju karena mereka pelit membagi informasi, tidak peduli dengan open source? Setahu Penulis, penggunaan open source di Jepang (dan juga Korea) cukup baik, hanya memang jarang diekspos, di China (dan mungkin India) perkembangan open source tidak terlalu baik lebih karena maraknya pembajakan, seperti halnya di Indonesia. Krisis finansial di AS dipicu oleh kredit (hipotek) properti yang terlalu diumbar, macet, dan pada akhirnya menyeret pasar keuangan dan bursa saham, dan akhirnya seluruh industri. Belum pernah diteliti (dan dibuktikan) bahwa open source software menjadi penyebab krisis di Amerika Serikat (dan Eropa).

Terakhir, nampaknya open source dipandang sangat Amerika-sentris dan menjadi trend yang dipandang kurang sehat dan menguntungkan bagi bisnis. Harus diakui, semuanya berawal di AS, tepatnya di MIT, tempat Richard Stallman waktu itu bekerja. Namun sekarang, open source telah menjadi milik dunia. Linus Torvalds mengawali Linux dari kamar kostnya di Finlandia. RedHat dan Novell boleh jadi berbasis di AS, namun distro Linux terpopuler saat ini, Ubuntu, diinisiasi oleh seorang berkebangsaan Afrika Selatan dan disponsori perusahaan yang berbasis di Isle of Men (Inggris). Lima di antara software open source terpopuler saat ini: Mozilla Firefox, OpenOffice.org, Linux, Apache HTTP Server, dan MySQL database, sudah bukan lagi barang asing bagi pengguna komputer.

Pada akhirnya, waktulah yang akan menguji apakah open source software dan model bisnisnya mampu bertahan. Puluhan proyek baru telah muncul, dan puluhan lainnya mati setiap harinya. Apakah sebuah proyek open source lahir karena hanya ikut-ikutan atau karena ambisi mesias sang pembuatnya bukanlah suatu yang patut dikritisi, karena komunitas yang menjadi kuncinya. Komunitas open source yang mendukung suatu proyek tentu merasakan manfaat dan tidak akan keberatan ‘menyumbang’ sesuatu kepada proyek yang bersangkutan, tidak lebih dari kerelaan mereka untuk membeli software non-open source yang diperlukan.

Instalasi Microsoft TrueType Fonts secara Offline di Ubuntu 7.10 ke Atas

Kemampuan Ubuntu versi 7.10 ke atas antara lain adalah memasukkan font-font default Windows (True Type Font) seperti Arial, Times New Roman, dan Courier New dengan memanfaatkan paket msttcorefont pada repository. Pada saat instalasi, script akan mengunduh paket-paket font dari internet, seperti saat kita menginstalasi flashplugin-nonfree yang akan mengunduh Flash Player dari Adobe.

Kadangkala kita tidak terhubung ke internet atau kecepatan koneksi internet yang lambat membuat instalasi terhambat. Salah satu trik yang bisa dimanfaatkan adalah dengan mengunduh paket font terlebih dahulu baru melakukan instalasi, dengan cara-car di bawah ini:

  1. Download paket-paket font dari situs SourceForge.net (andale32.exe, arial32.exe, arialb32.exe, comic32.exe, courie32.exe, georgi32.exe, impact32.exe, times32.exe, trebuc32.exe, verdan32.exe, webdin32.exe)
  2. Kumpulkan file .exe hasil download ke satu folder.
  3. Buka Terminal, masuk ke folder file .exe, tadi, lalu eksekusi perintah: cabextract *.exe untuk mengekstrak file-file font.
  4. Salin dan rename file-file .ttf ke folder /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts. Bila subfolder /msttcorefonts belum ada, buat terlebih dahulu dengan perintah: sudo mkdir /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts
  5. Perintah-perintah untuk menyalin file-file ttf adalah sebagai berikut:
    sudo cp AndaleMo.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Andale_Mono.ttf
    sudo cp Arial.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Arial.ttf
    sudo cp ArialBlk.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Arial_Black.ttf
    sudo cp Arialbd.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Arial_Bold.ttf
    sudo cp Arialbi.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Arial_Bold_Italic.ttf
    sudo cp Ariali.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Arial_Italic.ttf
    sudo cp Comic.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Comic_Sans_MS.ttf
    sudo cp Comicbd.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Comic_Sans_MS_Bold.ttf
    sudo cp cour.ttf /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Courier_New.ttf
    sudo cp courbd.ttf /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Courier_New_Bold.ttf
    sudo cp courbi.ttf /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Courier_New_Bold_Italic.ttf
    sudo cp couri.ttf /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Courier_New_Italic.ttf
    sudo cp Georgia.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Georgia.ttf
    sudo cp Georgiab.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Georgia_Bold.ttf
    sudo cp Georgiai.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Georgia_Italic.ttf
    sudo cp Georgiaz.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Georgia_Bold_Italic.ttf
    sudo cp Impact.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Impact.ttf
    sudo cp Times.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Times_New_Roman.ttf
    sudo cp Timesbd.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Times_New_Roman_Bold.ttf
    sudo cp Timesbi.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Times_New_Roman_Bold_Italic.ttf
    sudo cp Timesi.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Times_New_Roman_Italic.ttf
    sudo cp trebuc.ttf /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Trebuchet.ttf
    sudo cp Trebucbd.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Trebuchet_Bold.ttf
    sudo cp trebucbi.ttf /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Trebuchet_Bold_Italic.ttf
    sudo cp trebucit.ttf /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Trebuchet_Italic.ttf
    sudo cp Verdana.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Verdana.ttf
    sudo cp Verdanab.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Verdana_Bold.ttf
    sudo cp Verdanai.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Verdana_Italic.ttf
    sudo cp Verdanaz.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Verdana_Bold_Italic.ttf
    sudo cp Webdings.TTF /usr/share/fonts/truetype/msttcorefonts/Webdings.ttf
  6. Download dan install paket msttcorefonts (sudo dpkg -i msttcorefonts_x.x_all.deb) untuk me-register font-font tersebut.

Berapakah Harga Proyek/Software Open Source?

Kebanyakan orang di Indonesia mungkin akan menjawab nol, gratis, atau tidak ada harganya. Dalam konteks yang agak berbeda, ada yang ‘melecehkan’ penggunaan software open source dalam proyek-proyek bernilai miliaran rupiah. Penggunaan software ‘gratisan’ ini dianggap tidak layak dan kecurigaan dana proyek lebih banyak dikorupsi pun mengemuka. Saat satu situs berita menyiarkan kelemahan di salah satu software open source yang populer digunakan sebagai engine situs web (CMS), komentar yang masuk, anehnya, banyak yang menyoroti banyaknya software itu digunakan di proyek pemerintah. Nadanya pun sangat negatif, bahwa software open source yang gratisan itu tak pantas digunakan di proyek bernilai miliaran karena dianggap bermutu rendah dan banyak mengandung kelemahan.

Terlepas dari masalah korupsi yang sudah menjadi rahasia umum, ada dua hal yang patut digarisbawahi. Pertama: benarkah software open source yang gratisan ini tidak layak dihargai miliaran rupiah? Kedua: berpakah harga yang panatas untuk sebuah proyek/software open source?

Hidup di negara yang menderita kesenjangan digital dan lebih puas sebagai pemakai teknologi, bukan pencipta, wajar saja jika fenomena open source hanya dianggap sebatas software gratisan. Kurangnya penghargaan terhadap hak cipta dan kekayaan intelektual yang menyuburkan praktik pembajakan di Indonesia membuat software dianggap tidak ada harganya. Jika software komersial yang aslinya berharga ratusan dollar dianggap tidak ada harganya apalagi yang jelas-jelas gratisan, mungkin dianggap murahan dan tidak layak menjadi software.

Dari sudut pandang lain, ada yang berkomentar bahwa dengan nilai proyek yang miliaran, tidak pantas jika menggunakan software open source yang gratisan (dan murahan itu). Seharusnya, dengan modal miliaran rupiah pemenang proyek bisa mengembangkan softwarenya sendiri dari awal.

Penulis tidak tahu, apakah para komentator itu pernah melaksanakan proyek pemerintah. Dana miliaran rupiah untuk sebuah proyek itu sejatinya tidak semuanya bisa digunakan. Apalagi untuk sebuah proyek yang kompleks seperti website. Apabila mencakup hardware dan maintenance, dana miliaran rupiah pun akan terasa pas-pasan. Alokasi untuk software biasanya hanya belasan sampai puluhan juta saja, itu pun biasanya di-outsource-kan. Selain itu, banyaknya potongan resmi dan tak resmi di sana-sini membuat dana riil untuk pengerjaan proyek menjadi jauh dari nilai totalnya.

Di sisi lain, software open source, apalagi yang populer, sesungguhnya jauh dari yang dibayangkan masyarakat umum. Jika Anda mengembangkan software dari awal, paling banter hanya dikerjakan beberapa programer, yang kurang layak untuk durasi proyek yang terbatas. Sebuah software open source yang populer dikerjakan oleh ratusan sampai ribuan programer di seluruh dunia, sebagian di antaranya programer profesional yang bekerja di perusahaan IT terkemuka di dunia. Software tersebut juga relatif lebih matang dan melalui proses pengujian yang panjang selama bertahun-tahun. Kelemahan software open source cepat dan banyak ditemukan karena penggunanya banyak, sebaliknya juga cepat diperbaiki karena programernya juga banyak. Dukungan untuk software open source juga lebih mudah dibanding tailor-made yang bergantung penuh pada pembuatnya.

Kesimpulannya, dalam sebuah proyek bernilai berapapun, bukan masalah software open source, gratisan, atau murahan ataupun tailor-made (membuat sendiri), namun pemilihan yang tepat untuk proyek yang bersangkutan.